Solusi Menghindari Krisis Berupa Berhati-hati

Republika.co.id – Denpasar – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Erwin Rijanto mengatakan sistem keuangan yang stabil menimbulkan konsekuensi peningkatan biaya di industri. Hasil studi Thompson Reuters 2016 tentang cost of compliance menyebutkan hampir sepertiga perusahaan keuangan di dunia harus menyediakan waktu satu hari khusus setiap pekannya hanya untuk melacak adanya perubahan peraturan keuangan.

Studi tersebut menyebutkan bahwa permintaan tenaga kerja berkaitan dengan kepatuhan di perusahaan keuangan meningkat signifikan hampir dua kali lipat. BI, kata Erwin berpandangan bahwa perlu pemaham utuh tentang desain sistem keuangan.

"Desain sistem keuangan sejatinya keseimbangan antara rem dan gas. Rem untuk stabilitas dan gas untuk pertumbuhan," ujarnya dalam Seminar Nasional Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Denpasar.

Erwin mencontohkan peluang mobil untuk selamat dari kecelakaan (krisis) akan lebih besar jika pengemudi dan penumpang sepakat mau mengorbankan sedikit kecepatannya untuk sampai ke tempat tujuan. Tidak ada jalan terbaik menghindari krisis selain kehati-hatian dalam hal ilustrasi di atas adalah memperlambat jalan kendaraan. Sekuat apapun bumper mobil tak akan bisa menyelamatkan kendaraan saat mobil masuk jurang.

Erwin juga mencontohkan pada saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berencana melonggarkan kebijakan sektor keuangan di negaranya (Dodd Frank Act), sepertinya Sang Presiden melupakan satu hal, bahwa sistem tidak hanya butuh gas tapi juga rem. Banyak anggapan Trump sedang membawa AS menuju 'Make Crisis Great Again' bukan 'Make America Great Again.'

Dalam perjalanannya, kata Erwin, regulator harus melakukan fine tuning gas dan rem. Caranya dengan mempertimbangkan aspek risiko yang proporsional dan konsistensi global, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan perekonomian negara tersebut.

Leave a Reply