Negara Non-Muslim Mulai Mengikuti Bisnis Halal Menjadi Gaya Hidup

Dream.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui jaminan halal tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan umat muslim saja. Jaminan halal telah berkembang menjadi gaya hidup.

Perkembangan tersebut ternyata menarik perhatian negara-negara non-Muslim. Potensi ekonomi yang begitu besar membuat negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan tertarik menggarap pasar halal.

" Halal ini berupa perlindungan dan penjagaan umat Muslim dari konsumsi barang-barang yang tidak halal," kata Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, dalam acara 'Indonesia International Halal Lifestyle' di Jakarta.

Ma'ruf menjelaskan, jaminan halal kini tak lagi melulu di produk makanan dan minuman. Halal telah berkembang ke sektor lainnya, seperti fesyen, obat-obatan, dan keuangan.

" Saat ini, halal tidak hanya melindungi, tetapi mengarah kepada bisnis, business opportunity," kata dia.

Populasi Muslim di dunia diperkirakan mencapai 1,8 miliar jiwa dengan jumlah kelas menengah mencapai 600 juta orang. Jumlah tersebut menjadikan komunitas Muslim menjadi pasar yang menggiurkan.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian, potensi pasar halal cukup besar. Pada 2014, pasar halal global mencatatkan nilai perputaran uang sebesar US$2,3 miliar, setara Rp29 triliun dan dipercaya akan terus berkembang. Pada 2019, pasar ini diprediksi akan tumbuh menjadi US$3,7 triliun, setara Rp48.053 triliun.

Ma'ruf mencontohkan, Korea Selatan mulai merambah bisnis laundry halal. Ketika ada barang non-halal masuk ke dalam pencucian mereka, mesin-mesin dan kontainer akan langsung dicuci.

" Kalau terkena najis mugholadloh (najis berat), mereka juga akan mencuci mesin dan kontainer mereka dengan debu. Sayangnya, debu yang dipakai itu debu dari Malaysia. Kita (Indonesia) belum bisa memproduksinya," kata dia.

Leave a Reply