Mengelola Uang ala Generasi Milenial

Financi.detik.com – Jakarta – Salah satu yang tengah ramai jadi pembicaraan banyak orang adalah gaya hidup para milenial saat ini. Generasi Milenial terbilang produktif dalam menggerakkan tren konsumsi pada masyarakat.

Kita dapat dengan mudah menemui atau melihat di social media bagaimana generasi milenial dalam berperilaku. Kemajuan teknologi dan internet membuat sebagian besar generasi milenial ini memiliki pengelolaan keuangan yang tidak sehat.

Seperti apa pengelolaan keuangan anak milenial ini :

YOLO (You Only Live Once)
 You only live once atau YOLO atau kamu hanya hidup sekali. Generasi milenial umumnya sudah memiliki penghasilan sendiri dan mereka beranggapan bahwa hidup hanya sekali, maka harus dinikmati.

Ya memang benar hidup harus dinikmati, tapi harus seimbang juga dengan kebutuhan masa depan. Namun yang terjadi dengan generasi milenial ini, mereka memiliki pola pikir yang berbeda. Mereka menggunakan uangnya untuk kesenangan saat ini tanpa memikirkan masa depan.

Kita bisa lihat salah satu hal konsumtif yang dilakukan generasi milenial adalah travelling. Travelling tidak salah, ini merupakan sebuah kebutuhan kita saat ini di tengah banyaknya pekerjaan dan macet jalanan sehari-hari, tapi yang terlewat adalah tidak memikirkan biaya kebutuhan yang akan datang.

Dalam beberapa tahun terakhir selalu ada pameran travel fair, dan mayoritas yang datang adalah generasi milenial. Destinasi yang kerap dituju adalah Bali ataupun Singapore, Bangkok dan lainnya. Dalam satu kali travelling tersebut membutuhkan biaya Rp 3 – 5 juta.

Yang sering terjadi adalah ternyata mereka tidak memiliki tabungan atau investasi. Selama mereka bekerja, mereka akan menabung dan setelah terkumpul, mereka akan berlibur. Demikian siklusnya berputar terus.

Yang cukup miris adalah seorang karyawan dengan istrinya berangkat ke Bangkok untuk menonton konser, dan ketika pulang mereka memiliki utang kartu kredit senilai Rp 20 juta. Mereka berangkat tanpa rencana dan semua biaya berangkat serta selama disana menggunakan kartu kredit.

Entah apa yang membuat mereka memutuskan hal demikian. Saat ini orang tersebut sangat bingung dalam membayar utang kartu kredit tersebut, di sisi lain ternyata mereka sudah memiliki 2 anak, tentu butuh biaya yang tidak sedikit pula.

Inilah yang sering terjadi bagi generasi milenial, mampu travelling, tapi setelah selesai mereka tidak memiliki uang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup harian, apalagi yang sampai berutang.

Menikmati hidup tentu sudah selayaknya dan sepantasnya kita lakukan, termasuk travelling, tapi pastikan kebutuhan anda setelah travelling sudah terpenuhi, bukan habis semua untuk travelling.

Anda harus melihat jauh ke depan karena masih banyak biaya yang anda harus siapkan, belum hal lainnya seperti gadget.

Masyarakat kita saat ini tengah dikepung dengan serbuan penawaran menarik dari berbagai penjuru untuk membeli gadget baru. Mulai dari kartu kredit dengan cicilan 0% atau kredit mudah dengan modal KTP saja dan proses 10 menit. Anda pasti sering mendapat penawaran ini bukan.

Bagi generasi milenial, kemudahan untuk membeli barang secara kredit tentu membuat mereka terlena. Mereka merasa akan sanggup membayar setiap bulan bila dengan cara kredit.

Tapi yang sering terjadi adalah mereka tidak sanggup untuk mengontrol diri terhadap elektronik lainnya. Misal, saat ini anda telah memiliki handphone dengan metode pembayaran cicilan selama 12 bulan, lalu baru berjalan berapa bulan, ternyata anda membeli laptop lagi, kemudian anda akan membeli tablet, lalu kamera.

Kalau anda melakukan ini terus menerus, maka gaji anda akan habis hanya untuk membayar cicilan, lalu darimana anda memenuhi kebutuhan hidup bulanan? Inilah yang sering terjadi dan dialami para generasi milenial.

Mereka belum sadar bagaimana pentingnya membatasi Utang maksimal yang boleh diambil, mereka belum tahu akan pentingnya menyiapkan dana darurat, dan tentu belum melek keuangan secara benar karena kebutuhan hidup di masa yang mendatang cukup besar. Kalau tidak disiapkan dari sekarang, bagaiamana nanti ke depannya.

Padahal masa muda itu kesempatan kita mengelola dan investasi dana kita sehingga bisa berkembang lebih besar lagi di kemudian hari. Itulah sebabnya perlu belajar ilmu keuangan.

Leave a Reply