Ekonomi Syariah – sebuah refleksi dari hakikat penciptaan lebah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Semangat (ghirah) ummat Islam di Indonesia dalam menjalankan kegiatan perekonomian sebagai bagian dari muamalah yang sesuai dengan syari’at Islam semakin tinggi dari tahun ke tahun. Di awali dengan munculnya bank-bank syariah atau divisi/unit usaha syariah pada bank konvensional pada tahun 1990-an dan disusul kemudian dengan munculnya usaha-usaha syariah lainnya seperti: asuransi syariah, pegadaian syariah, pariwisata syariah, properti syariah, koperasi syariah, dan lain sebagainya selama kurun waktu tahun 2000-an. Ini merupakan sinyal kebangkitan ekonomi Islam di Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Veithzal Rivai menuturkan bahwa secara filosofis, sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun atas nilai-nilai Islam, dimana prinsip tauhid yang mengedepankan nilai-nilai Ilahiyah menjadi inti dari sistem ini. Al-Quran telah memberikan contoh yang tegas mengenai permasalahan ekonomi ini yang menekankan bahwa ekonomi adalah salah satu bidang yang menjadi perhatian di dalam Islam (2013, hlm 212-213). Allah berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara’ (26) ayat 177 – 183 yang artinya: “Ketika Syu'aib berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”.

Dengan berpegang pada kaidah fiqih muamalah yang menyatakan bahwa “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” dan sebagai aktualisasi dari teori maqashid syariah, yaitu tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari penetapan suatu hukum yang diturunkan Allah SWT kepada makhluk mukallaf, sudah seharusnya dan semestinya ini menjadi motifasi bagi setiap muslim untuk menjalankan kegiatan perekonomian dengan sungguh-sungguh dan serius yang berlandaskan pada syariat Islam, yaitu ‘berita wahyu’ (Al-Quran) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya (Muhammad saw) maupun pada apa-apa yang sudah diteladankan oleh Rasulullah melalui sunnah beliau; demi tercapainya inti dari maqashid syariah itu sendiri, yang menurut pendapat Asy-Syatibi (w. 790 H.) adalah demi kemaslahatan ummat manusia.

Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan: “Agar kemaslahatan bisa terwujud, bagaimanakah kegiatan perekonomian (ekonomi syariah) itu dijalankan dan diaktualisasikan?”

Merunut jauh ke belakang sekitar 14 abad silam, Al-Qur’an telah mengirimkan pesan kepada manusia tentang bagaimana kegiatan perekonomian sebagai bagian dari muamalah itu semestinya diaktualisasikan, yaitu dengan pengajaran yang Allah SWT berikan melalui hakikat penciptaan lebah; makhluk ciptaan Allah SWT penghasil madu. Dengan sangat jelas dan indah, Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl (16) ayat 68 – 69 yang artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”  

Pada hadits-hadits Rasulullah saw juga ditemukan sabda-sabda beliau tentang korelasi antara hakikat penciptaan lebah dengan perilaku seorang muslim dalam bermuamalah. Rasulullah saw bersabda, ”Dan perumpamaan seorang mukmin itu seperti lebah, ia hinggap di tempat yang baik dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak.” (HR. Thabrani). Pada riwayat yang lain menyebutkan: “Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.” (HR. Ahmad).

Melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah di atas, beberapa pengajaran (ibrah) yang dapat diambil dari penciptaan lebah bagi manusia antara lain:

  • Lebah tunduk, patuh dan taat pada perintah dan hukum Allah SWT serta kehendak-Nya, dengan bentuk kepatuhan dan ketaatan (tauhid) yang sempurna dari makhluq kepada Sang Maha Pencipta (Khaliq). Ketaatan dan kepatuhan akan hukum dan perintah Allah SWT inilah yang diperlukan untuk dapat menjalankan setiap kegiatan (termasuk di dalamnya kegiatan perekonomian) agar tetap berada pada koridor syari’at agama Islam. Harus diakui bahwa ekonomi Islam merupakan ajaran dari syari’at Islam di mana setiap muslim harus mengimaninya. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al- Jatsiyah (45) ayat 18 yang terjemahannya: “Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. Kegiatan perekonomian harus dijalankan dalam kerangka ketaatan kepada hukum-hukum Islam. Menurut Cholil Nafis, terdapat dua istilah yang digunakan untuk menunjukkan hukum Islam, yaitu Syariah Islam dan Fiqih Islam. Di dalam buku-buku hukum Islam berbahasa Inggris, Syariah Islam disebut Law, sedangkan fiqih Islam disebut Islamic jurisprudence. Di Indonesia, syariah Islam sering disebut dengan istilah hukum syari’at atau hukum syara’, sedangkan fiqih Islam sering disebut dengan istilah hukum fiqih atau kadang-kadang disebut dengan fiqih Islam (2011, hlm 19).
  • Pengajaran selanjutnya yang dapat kita ambil dari lebah adalah keseluruhan perilaku, cara kerja yang meliputi input, proses dan output yang begitu sempurna nan indah yang menggambarkan ke-Maha Agung-an Allah SWT dalam mengatur setiap detil ciptaan-Nya. Lebah hinggap pada tempat yang baik lagi bersih, dan mengambil/ menghisap sesuatu yang bersih dan baik pula. Melalui firman-Nya, Allah SWT memerintahkan kepada manusia dalam menjalankan perekonomian, bahwa setiap kegiatan manusia haruslah melibatkan sesuatu yang halal lagi baik, dan didapatkan/ berasal dari sesuatu yang baik (harta yang halal dan thoyyib, serta didapatkan melalui jalan yang baik). Perintah ini juga ditegaskan dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Baqarah (2) ayat 168 yang artinya: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” 

Allah SWT juga mengajarkan kita tentang proses pengelolaan dan manajemen di dalam bermuamalah, melalui tata cara lebah dalam membuat sarangnya. Sebuah perencanaan dan teknik yang luar biasa menakjubkan, ketaatan kepada pemimpin, etos kerja yang tinggi dan kerjasama yang erat diantara mereka dalam membangun pundi-pundi madu, serta perhitungan yang begitu cermat tentang besar sudut antara rongga satu dengan yang lain saat membangun pundi-pundinya. Keseluruhan dari input dan proses ini menghasilkan output yang baik, yaitu berupa madu yang bermanfaat bagi semua makhluk hidup. Hendaknya ini menjadi contoh bagi manusia dalam berperilaku, berinteraksi, dan bermuamalah dengan sesama. Perekonomian Islam harus dibangun dari harta yang halal lagi baik (tidak ada riba, gharar, maysir) dan didapatkan dari cara-cara dan manajemen yang baik pula, melibatkan sumber daya manusia yang berkompeten dari segi pemahaman keilmuan keagamaan maupun segi keilmuan dan penguasaan tentang teori dan praktik perekonomian. Hal ini diwujudkan melalui penerapan akad-akad, atau cara-cara transaksi di dalam Islam yang disebutkan di dalam firman Allah SWT maupun sunnah Rasulullah SAW, yaitu melalui transaksi murabahah, mudarabah, musyarakah, salam, istishna, ijarah, wadiah, wakalah, kafalah, qardh, rahn, maupun inovasi dan derivasi dari akad-akad yang sudah ada (sepanjang tidak melanggar syari’at), dijalankan oleh SDM (sumber daya manusia) yang kompeten dan beretos kerja tinggi, manajemen muamalah yang baik dan fleksibel, serta tetap konsisten berpegang pada hukum Islam. Jika semua itu dijalankan dan diaktualisasikan, pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berkontribusi bagi kemaslahatan ummat manusia.

Berkaitan dengan karakter lebah dan seorang muslim dalam bermuamalah, Al Munawi rahimahullah berkata: “Sisi kesamaannya adalah bahwa lebah itu cerdas, ia jarang menyakiti, rendah (tawadlu), bermanfaat, selalu merasa cukup (qona’ah), bekerja di waktu siang, menjauhi kotoran, makanan nya halal nan baik, ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain, amat taat kepada pemimpinnya, dan lebah itu berhenti bekerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air dan api. Demikian pula mukmin, amalnya terkena penyakit bila terkena gelapnya kelalaian, mendungnya keraguan, angin fitnah, asap haram, dan api hawa nafsu” (Faidlul Qadiir, 5/115).

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

 

 

Penulis:

Slamet Hidayat

Mahasiswa Pasca-Sarjana Universitas Indonesia

Program Studi Kajian Stratejik Timur Tengah dan Islam

 

 

Referensi:

Cholil Nafis, H.M. (2011). Teori Hukum Ekonomi Islam. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Universitas

Indonesia (UI-Press).

Veithzal Rivai, Andi Buchari. (2013). Islamic Economics. Cetakan Kedua. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

http://bersamadakwah.net/filosofi-lebah-bagi-pribadi-mukmin/

 

Leave a Reply