Sejumlah Mahasiswa Menyewa Hotel untuk Shalat Tarawih Karena Masjid Sedikit

Republika.co.id – Alkhobar – Mahasiswa asal Arab yang mendapat beasiswa di luar negeri menghadapi kesulitan di bulan Ramadhan.

Tak lain karena mereka merindukan suasana spiritual berbuka puasa di kampung halamannya di mana seluruh keluarga berkumpul bersama dalam satu meja setiap malam.

Tantangan lain yang dihadapi adalah jam puasa yang lebih lama. Malahan sebagian dari mereka harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka di universitas dalam menghadiri kuliah dan jenis studi lainnya.

Dalal Al-Harbi contohnya, seorang penerima beasiswa dari Alkhobar yang belajar di Colorado di AS mengatakan, sangat jelas terasa perbedaan suasana Ramadhan di Amerika. Perbedaan tersebut di antaranya dia jarang sekali mendengar lantunan suara muazin, tidak bisa berkumpul bersama keluarga serta semangat masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa.

"Mempersiapkan buka puasa adalah cara untuk mengobati kerinduan saya selama ini," kata dia.

Mazen Al-Ahmadi, seorang penerima beasiswa di Montana, AS mengatakan keinginannya bisa menjalani puasa bersama keluarganya di Arab Saudi selama bulan Ramadhan. "Tantangan terbesar yang saya hadapi di sini adalah waktu yang lama puasa, intensif jam sekolah, ujian, tugas, serta sulitnya mendapatkan makanan Arab Saudi," ujar dia.

Ritual Ramadhan lain seperti shalat tarawih juga terbilang sulit. Menurutnya, ketersediaan Masjid di Amerika Serikat yang minim adalah salah satu hambatannya. Sehingga, untuk memenuhi kekurangan ini, beberapa siswa mengatakan menyewa ruang di hotel selama satu bulan penuh yang akan dialokasikan untuk shalat tarawih.

Sementara itu, sisi positifnya, para mahasiswa Saudi di Amerika Serikat percaya, pengalaman Ramadan di luar negeri adalah kesempatan untuk memperkuat hubungan antara komunitas Muslim. Eiad Makki, penerima beasiswa pascasarjana, mengatakan, kesulitan yang dihadapinya adalah waktu dan suhu yang tinggi.

"Tapi aku bisa mengatasinya dengan cara menghabiskan waktu bersama teman-teman dan kerabat seperti untuk buka puasa bersama dan pertemuan dengan komunitas Muslim," tambahnya.

BI Mengembangkan Layanan Uang Elektronik di Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID – Bengkulu – Bank Indonesia mengembangkan layanan uang elektronik dengan memanfaatkan institusi pesantren yang ada di Provinsi Bengkulu. Kepala Tim Advisory Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu, Christin Sidabutar, menyebutkan, layanan e-money atau uang elektronik ini direncanakan sudah bergulir menjelang Ramadhan 2017.

"Kita memilih pesantren sebab disini institusi paling tepat untuk penerapannya karena seluruh aktivitas terfokus 24 jam dalam pesantren," kata Christin.

Di pesantren, para santri mulai dari sekolah sampai kegiatan sehari-hari, semuanya dilakukan di lingkungan asrama dengan jangka waktu panjang yakni setidaknya selama tiga tahun. "Kalau di sekolah biasa menjadi tidak efektif. Sebab ,siswanya setelah proses belajar mengajar ya pulang ke rumah, jadi susah untuk menerapkan uang elektronik ini," kata dia.

Para santri dibekali dengan kartu e-money dalam beraktivitas baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk keperluan belajar mengajar. Mereka tidak lagi memegang uang tunai, jika ingin berbelanja di toko yang tersedia di pesantren cukup menggunakan kartu tersebut, atau di toko-toko retail yang telah menyediakan perangkat pembayaran menggunakan uang elektronik.

"Begitu juga untuk keperluan pembayaran uang sekolah. Kita berharap selama santri menimba ilmu di pesantren mereka menjadi terbiasa menggunakan uang elektronik, dan berlanjut setelah tamat nanti, bahkan kalau bisa ikut menularkan hal positif ini ke yang lain," ujarnya.

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu memilih pesantren yang ada di Kabupaten Kepahiang untuk mengembangkan program uang elektronik. Diharapkan banyak institusi pendidikan lainnya juga ikut tertarik menggunakan e-money.

UNIJA Menggelar Seminar Investasi Cerdas di Pasar Modal Syariah

logo unija

PortalMadura.Com, Sumenep – Universitas Wiraraja (Unija) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menggelar seminar dengan tema “Investasi Cerdas di Pasar Modal Syariah” pada hari Rabu (8/3/2017).

Acara yang ditempatkan di Graha Sumekar Unija, menghadirkan, nara sumber yang sesuai dengan bidangnya, yakni; Asiki Ashar dari Bursa Efek Indonesia, Edi Murdiono dari PT. Indo Premier Sekuritas dan Deddy Herlambang, Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal Kantor Otoritas Jasa Keunagan (OJK) 4 Regional Jatim.

Pembantu Rektor I Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Mohamad Harun, dalam sambutannya, mengungkapkan, bahwa diskusi dan seminar merupakan kegiatan rutinitas yang sudah membudaya dilingkungan Unija.

“Namun, untuk kegiatan kali ini, diikuti oleh lembaga keuangan syariah, mahasiswa Unija dan siswa Madrasah Aliyah,” terang Harun.

Ia berharap, narasumber yang hadir dapat memberikan tambahan ilmu baru tentang syariah yang saat ini lagi ‘ngetren’. “Untuk peserta, semoga mendapat pengalaman baru dari pemateri yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya,” katanya.

Salah satu pemateri, Manajer Eksekutif Training Bursa Efek Indonesia, Surabaya, Asiki Ashar, juga membahas tentang rencana peresmian galery bursa efek di Universitas Wiraraja, tanggal 22 Maret 2017.

Rencana tersebut dibenarkan oleh Nur Dody Zakky, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis. “Benar, memang akan dilaksanakan peresmian galery bursa efek  di Unija,” ucapnya.

Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Benahi Kualitas Pendidikan Ekonomi Syariah

1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Satu agenda besar yang akan dijalankan oleh Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) adalah membenahi kualitas sistem pendidikan ekonomi syariah.

Pungky Sumadi , Staf Ahli Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)menjelaskan bahwa KNKS akan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini. Sedangkan agenda besar untuk membenahi kualitas pendidikan ekonomi syariah diperkirakan akan mulai didorong pada tahun depan.

“Karena kami melihat bahwa kalau untuk mengembangkan ekonomi syariah, tidak bisa terlepas dari SDM (Sumber Daya Manusia) juga. Jadi salah satunya ini yang akan kita garap,” ujar Pungky.

Pungky menuturkan, saat ini SDM di bidang keuangan syariah khususnya perbankan banyak yang berasal dari konvensional dan bukan merupakan lulusan dari ekonomi syariah. Sementara lulusan ekonomi syariah tidak terserap ke industri keuangan syariah, karena kualitasnya dinilai masih di bawah konvensional.

Dalam master plan KNKS, salah satu rencana membenahi kualitas pendidikan ekonomi syariah yakni dengan memetakan problem di masing-masing pulau di Indonesia. Saat ini terdapat 128 perguruan tinggi yang mengajar ekonomi syariah.

Pungky memaparkan KNKS nantinya tidak akan langsung membenahi seluruhnya secara langsung, namun akan bertahap per pulau, karena jika per provinsi belum memungkinkan lantaran biaya yang besar. Nanti akan dilihat perguruan tinggi mana yang terbaik dalam bidang ekonomi syariah, lalu akan dibenahi dari segi SDM dan dana untuk riset pengembangan akademisnya.

“Nanti akan kita dalamin lagi bagaimana pemetaan lulusan PT tersebut, banyak diterima atau tidak. Kalau bagus, kita akan fokus pembenahan kualitas universitas lain. Kalau di universitas lain ternyata kurang tenaga pengajar atau jurnal-jurnal ilmiah tidak banyak, yang seperti ini harus didorong,” tutur Pungky.

Dengan demikian, ia memperkirakan barangkali Pulau Jawa tidak menjadi fokus pembenahan kualitas. Karena saat ini beberapa perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi syariah di Pulau Jawa memiliki kualitas yang cukup bagus. “Kita juga akan fokus dalam menaikkan kualitasnya,” ujarnya.

Meski fokusnya pada pengembangan keuangan syariah, namun tidak bisa melepaskan elemen-elemen lain di keuangan syariah. KNKS nantinya tidak akan mendorong ekonomi syariah saja, tapi juga ekonomi riil. Sebab, ekonomi syariah tidak akan berjalan dengan baik apabila ekonomi riil tertinggal.

“Artinya kami ingin di bappenas ekonomi riil didorong, sehingga saat ekonomi riilnya butuh sesuatu ekonomi syariahnya sudah siap. Sebaliknya keuangan syariah sudah berkembang, ada pasar juga yang pas untuk dia menyalurkan dana-dananya,” jelas Pungky.

Agenda besar ini, kata Pungky, baru akan berjalan pada tahun depan. Hal ini dikarenakan KNKS akan mulai beroperasi pada Juni 2017 ini.

“Kita benahi dulu manajemen KNKS lalu pengembangan dengan memetakan potensi pendidikannya,” tuturnya.

Universitas Islam Negeri (UIN) Palembang Mantapkan Zakat Dosen

1

sumeks.co.id – PALEMBANG- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumatra Selatan bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Palembang melakukan penandatangan Momerandum of Understanding (MoU) pengelolaan zakat dosen dan pegawai. Kegiatan yang telah dilakukan pada Senin (13/2) di Halaman Kantor Pusat UIN Raden Fatah Palembang.
Ketua Baznas Sumatra Selatan, Drs H Nazib Haitami MM mengatakan, MoU Ini bukan hanya dilakukan dengan UIN saja tapi juga dengan universitas lainnya di beberapa wilayah khususnya Sumatra Selatan
MoU ini bertujuan untuk pemantapan pengumpulan zakat para karyawan dan dosen di Universitas, khususnya di UIN Palembang.

1 2 3