Investor Semakin Percaya Indonesia, Pertumbuhan Pasar Modal Naik

Economy.okezone.com – Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pasar modal menjadi sektor jasa keuangan yang pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan perbankan dan sektor lain. Pasar modal pertumbuhan mencapai 10,7% (year to date).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, target penyerapan atau koleksi dana dari masyarakat melalui pasar modal sudah meningkat cukup besar sekira Rp190 triliun. Jumlah tersebut sudah melampaui target.

"Tentu ini satu indikasi bagus pertumbuhan lebih dari perbankan. Ke depan kami sampaikan bahwa sudah dapat menarik investor cukup besar sebesar Rp210 triliun (yod)," terang Wimboh saat rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta

Menurut Wimboh, pertumbuhan pasar modal menunjukan bahwa investor semakin percaya terhadap perekonomian Indonesia. Sehingga dana pasar modal sekarang bisa melebihi target.

"Bahkan masih ada penawaran umum dilakukan 25 perusahaan dengan nilai indikatif Rp204,5 triliun,"ujarnya.

Dari analisis OJK, lanjut Wimboh, sektor jasa keuangan yang pertumbuhannya turun justru terjadi pada perbankan. Bila dilihat besaran aset perbankan saat ini memang tidak sebagaiamana diharapkan. Aset tumbuh 4,34% (yod) dan 10,2% (yoy) atau menjadi Rp7.000 triliun.

"Kredit tumbuh sangat rendah (yod) 2,5%, (yoy) 8,26%, dengan NPL yang relatif tidak ada perubahan sekitar 3,05% gross atau 1,96% net ini sudah mempertimbangkan adanya pencabutan relaksasi penghitungan NPL dengan satu pilar sehingga tidak berdampak pada kenaikan NPL," tukasnya.

Bukalapak Menjaring Investasi Para Investor Syariah Melalui BukaReksa

Republika.co.id – Jakarta – Potensi Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Bukalapak dan Bareksa, bersama dengan Mandiri Manajemen Investasi selaku manajer investasi menghadirkan produk reksa dana syariah dalam fitur BukaReksa. Produk reksa dana syariah ini bernama Reksadana Syariah Mandiri BukaReksa Pasar Uang.

Produk ini telah diluncurkan pada akhir Maret 2017 dan telah mendapatkan respons positif dari masyarakat. Sejak peluncurannya hingga awal sekarang, tiap harinya BukaReksa memiliki ratusan tambahan investasi.

Pendaftaran sebagai nasabah untuk produk reksa dana syariah di fitur BukaReksa sangatlah mudah, sama seperti produk reksa dana konvensional di fitur tersebut, syaratnya adalah harus memiliki akun Bukalapak dan memiliki saldo di BukaDompet dengan minimal 10 ribu rupiah. Para pengguna di Bukalapak dapat mengakses fitur BukaReksa di halaman BukaDompet atau menu MyLapak.

Sebelum melakukan investasi, harus melakukan pengisian formulir lalu mendapatkan notifikasi bahwa pembukaan rekening reksa dana telah disetujui. Permintaan terhadap produk reksa dana syariah dalam fitur BukaReksa pun menjadi salah satu alasan Bukalapak menghadirkan produk tersebut.

Achmad Zaky, Founder dan CEO Bukalapak mengatakan, fitur ini menawarkan kemudahan berinvestasi dan imbal hasil yang mencapai delapan persen dalam setahun."Kami berharap semua kalangan masyarakat Indonesia dapat belajar berinvestasi lewat fitur ini. Selain itu pula, lewat fitur ini diharapkan dapat berkontribusi menaikkan jumlah nasabah reksa dana di Indonesia," kata Achmad Zaky dalam peluncuran Reksa Dana Syariah dalam fitur Bukareksa di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Achmad Zaky menambahkan, sejak produk reksa dana syariah tayang di fitur BukaReksa Bukalapak, dalam kurun waktu singkat terdapat penambahan investor lebih dari 2000 investor.

Sebagai pemegang lisensi APRD (Agen Penjual Reksa Dana), Bareksa menjamin bahwa produk reksa dana syariah BukaReksa ini adalah produk investasi yang diatur dan diawasi oleh OJK. Dengan menggandeng Mandiri Manajemen Investasi sebagai pembuat produk reksa dana Reksadana Syariah Mandiri BukaReksa Pasar Uang, para pengguna Bukalapak dapat berinvestasi di produk ini dengan minimal dana hanya 10 ribu rupiah saja.

Produk reksa dana syariah sebenarnya telah ada sejak tahun 1997, meskipun mengalami pertumbuhan, akan tetapi pangsa pasarnya kurang dari 5 persen dari total industri reksa dana hingga saat ini. Potensi untuk meningkatkan daya tarik pasar investasi reksa dana di Indonesia, khususnya terhadap produk syariah, masihlah terbuka luas.

Direktur Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Fadilah Kartikasasi mengatakan, OJK selaku regulator yang berupaya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, menyambut positif untuk setiap inovasi pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan tersebut. "Hal ini membantu kami dalam melaksanakan Roadmap Pasar Modal Syariah Indonesia 2015-2019 agar terwujud,” kata dia.

Sementara itu, Ady Pangerang, CEO Bareksa menjelaskan, animo masyarakat untuk berinvestasi pada reksa dana syariah cukup besar di platform Bareksa. Ini terlihat dari perbandingan jumlah Asset Under Management  (AUM) syariah terhadap total AUM yang berada di sekitar 15 persen.

"Kalau dibandingkan dengan Industri sendiri yang hanya berada di sekitar 4,5 peren porsi ini terlihat cukup besar. Di samping itu kami juga melihat ada sekitar 5 persen dari investor kami yang hanya memilih untuk berinvestasi di produk syariah. Kami berharap angka-angka ini akan meningkat pesat dengan diluncurkannya produk BukaReksa Syariah Pasar Uang,” kata Ady.

Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, Muhammad Hanif, mengatakan, minat investor terhadap reksa dana syariah di Indonesia saat ini cukup besar. Saat ini Mandiri Investasi memberikan pilihan produk yang lengkap yang dapat disesuaikan dengan karakter dan profil dari investor.

Paytren Asset Management Sedang Menyiapkan 2 Produk Reksa Dana Syariah

Republika.co.id – Jakarta – PT Paytren Asset Management (PAM) akan mengeluarkan dua produk investasi pertamanya pada akhir tahun 2017. Rencananya izin produk tersebut akan langsung didaftarkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah PAM mendapatkan izin manajer investasi.

PAM merupakan perusahaan manajer investasi di bawah PT Veritra Sentosa Internasional, yang memiliki produk teknologi finansial (fintech) Paytren. Menurut Managing Director PT Veritra Sentosa Internasional, Hari Prabowo, pihaknya optimistis izin PAM sebagai manajer investasi akan segera dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam waktu dekat.

"Mudah-mudahan akhir bulan ini. Insyaallah akan menjadi manajer investasi syariah pertama di Indonesia," ujar Hari Prabowo.

Izin PT PAM sebagai manajer investasi syariah sudah didaftarkan perusahaan sejak Juli lalu. Hari menuturkan, permintaan yang besar di pasar modal syariah merupakan salah satu alasan perusahaan membentuk manajer investasi syariah.

Chief Executive Officer PT PAM, Ayu Widuri menjelaskan, setelah izin sebagai manajer investasi dikeluarkan oleh OJK, pihaknya akan segera mendaftarkan izin dua produk reksa dana ke otoritas. "Kami sudah mempersiapkan produk reksa dana pasar uang dan reksa dana saham syariah," ungkap Ayu.

Saat ini, perusahaan telah menyiapkan berbagai persyaratan untuk mendaftarkan kedua produk tersebut ke OJK, salah satunya kontrak investasi kolektif untuk produk reksa dana. Selain itu, perusahaan juga sedang mempersiapkan infrastruktur untuk reksa dana online. "Jadi begitu izin manajer investasi keluar, kita langsung mengajukan pendaftaran produk reksa dana," tutur Ayu.

Menurut Ayu, proses pendaftaran produk akan memakan waktu maksimal selama 45 hari di OJK. Apabila izin manajer investasi keluar pada akhir bulan ini, kemudian produk sudah bisa didaftarkan dalam waktu maksimal satu bulan setelahnya.

"Insyaallah akhir bulan ini (izin manajer investasi). Semua dokumen sudah lengkap (untuk produk), tinggal kita daftarkan," kata Ayu.

BEI Segera Mempersiapkan Aturan Papan Khusus Saham UKM

Republika.co.id – Jakarta – Bursa Efek indonesia (BEI) sedang menyiapkan aturan mengenai papan khusus bagi saham-saham kategori perusahaan kecil dan menengah (UKM), hal ini bertujuan untuk mendorong penambahan jumlah emiten di pasar modal domestik.

"Sedang siapkan aturan mengenai papan khusus untuk perusahaan kecil dan menengah, OJK juga telah mengeluarkan aturan mengenai kriteria perusahaan kecil dan menengah. BEI sekarang siapkan aturan pendukung peraturan OJK itu," ujar Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan di Jakarta.

Saat ini, ia mengemukakan bahwa pihaknya sedang mempelajari kriteria jumlah pemegang saham, persentase saham yang akan kepas ke publik melalui mekanisme IPO, kemudian mengenai direksi independen perusahaan kecil dan menengah.

"BEI menyiapkan aturannya untuk merealisasikan perusahaan kecil dan menengah supaya sahamnya juga bisa tercatat," katanya.

Saat ini, di BEI terdapat papan utama dan papan pengembangan. Papan utama merupakan papan pencatatan yang disediakan untuk mencatatkan saham dari perusahaan yang memiliki aktiva berwujud bersih sekurang-kurangnya Rp100 miliar dan memiliki pengalaman operasional sekurang-kurangnya 36 bulan.

Sedangkan papan pengembangan merupakan papan pencatatan yang disediakan untuk mencatatkan saham dari perusahaan yang memiliki aktiva berwujud bersih sekurang-kurangnya Rp5 miliar dan memiliki pengalaman operasional sekurang-kurangnya 12 bulan.

Pada Kamis lalu (27/7), OJK mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah.

Dan, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 54/POJK.04/2017 tentang Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah.

Pertumbuhan Pasar Modal Syariah Dua Kali Dibandingkan Pasar Modal Konvensional

Republika.co.id – Jakarta – Pasar modal syariah lebih diperhatikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) . Sebab, potensi pasar modal syariah sangat besar. Pertumbuhan saham syaraiah dua kali saham konvensional.

BEI mencatat, secara presentase, transaksi saham di BEI didominasi oleh saham berbasis syariah. Sebanyak 62 persen jumlah saham yang ditransaksikan di BEI merupakan saham berbasis syariah, kemudian 55 persen kapitalisasi pasar di BEI merupakan saham syariah, bahkan 56 persen nilai transaksi saham di BEI dilakukan di saham berbasis syariah.
 
"Syariah itu growth-nya dua kali growth konvensional. Kita itu negara Islam terbesar di dunia jadi produk kita memang syariah," ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta.
 
Ia pun menyebutkan, jumlah investor saham syariah pun terus tumbuh. Pada 2014, persentasenya baru 0,7 persen, kemudian meningkat 1,1 persen di 2015, lalu naik lagi di 2016 menjadi 2,3 persen, sekarang per Agustus 2017, jumlah investor saham syariah mencapai 3,1 persen.
 
"Kalau dilihat, peminatnya banyak sekali yang bicara syariah tapi memang saat ini belum end to end. Maka kita sedang develop, bagaimana caranya  dari mulai order produk sampai proses pada emiten," kata Tito.


Menurutnya, pasar modal syariah harus terus dikembangkan agar lebih maju. Salah satunya dengan membuat end to end produk bersyariah.
 
"Jadi misalnya, syariah itu, kalau broker investor punya uang Rp 100 juta, dia bisa order Rp 200 juta misalnya punya stok saham Rp 10 miliar. Kalau di syariah, produk margin itu tidak bisa walaupun ada stok saham Rp 2 miliar hanya boleh transaksi Rp 10 juta. Ini yang tidak gampang, harus end to end produk dan proses," kataTito.
 
Ke depannya, ia berencana mengusulkan ada direktur khusus untuk pasar modal syariah agar lebih fokus dalam membesarkan pasar modal syariah. Di beberapa negara seperti Malaysia pun, kata dia, ada direktur khusus syariah.
 
Sebelumnya BEI mencatat, dari sisi volume, pertumbuhan nilai dan frekuensi transaksi saham berbasis syariah dari 2011 sampai Agustus 2016 jauh lebih tinggi dibandingkan saham non syariah. Rata-rata pertumbuhan volume transaksi saham syariah 167,2 persen berbanding 130 persen non syariah.
 
Sedangkan dari sisi rata-rata pertumbuhan nilai transaksi saham syariah dalam lima tahun terakhir mencapai 70,7 persen berbanding 25,4 persen non syariah. Sedangkan rata-rata pertumbuhan frekuensinya mencapai 185,7 persen berbabding 160,7 persen non syariah.
 
Lalu untuk efek selain saham, seperti sukuk, nilai outstanding sukuk negara di BEI sudah mencapai Rp 310,38 triliun. Sementara outstanding sukuk korporasi nilainya Rp 14,26 triliun.
 
Kemudian pernerbitan Surat Berharga Negara Syariah di sepanjang 2015 sampai 2016 tercatat sebesar 61,9 persen. Angka itu melampaui penerbitan Surat Berharga Negara Konvensional yang hanya 31,9 persen.

1 2 3 4 5 27