Paytren Mulai Menjual Reksadana, Target Rp 500 Miliar

Republika.co.id – Jakarta – Paytren Asset Management (PAM) akan meluncurkan dua produk reksadana hari ini di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal itu dilakukan setelah mendapat surat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Besok kita luncurkan dan memasuki tahap pemasaran produknya. Kita tawarkan dulu sebelum NAB (Nilai Aktiva Bersih) ditentukan," ujar Direktur Utama PAM Ayu Widuri.

Ia menambahkan setelah ditawarkan, NAB akan ditentukan dalam waktu satu sampai dua hari setelahnya. "Jadi besok awalnya, karena nasabah reksadana harus daftar dulu baru bisa transaksi," jelas Ayu.

Lebih lanjut, kata dia, Paytren menargetkan 500 ribu investor di awal dengan investasi minimal Rp 1 juta. Dengan begitu, target awal dana investasi yang dihimpun sekitar Rp 500 miliar.

"Kita sudah punya target pasar yaitu mitra Paytren yang jumlahnya sekitar Rp 1,7 juta. Sebelum izin OJK kita sudah melakukan edukasi dan literasi reksa dana syariah termasuk penjelasan saham syariah," jelas Ayu.

Menurutnya, dari edukasi tersebut, animo para Mitra tersebut cukup besar. Apalagi produk PAM memang sudah lama mereka tunggu.

NAB reksadana merupakan harga atau nilai wajar dari produk reksadana per unit atau penyertaan. Turun naiknya suatu reksadana terlihat dari NAB ini. Reksadana menjadi bagian penting investasi portofolio yang dijual dalam bentuk konvensional dan syariah.

Sebelumnya, PAM telah mendaftarkan dua produknya ke OJK, salah satunya yakni kontrak investasi kolektif untuk produk reksadana. Komisaris Utama sekaligus pemilik Paytren Yusuf Mansur pun mengaku senang atas terbitnya izin itu. "Berkat doanya kawan-kawan. Insya Allah, jualan dah kita," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Paytren kini ada dua. Pertama, Paytren yang bisa dimanfaatkan untuk pembayaran. Lalu kedua, Paytren Asset Management sebagai wadah berinvestasi.

"Kawan-kawan kudu ikutan untuk meramaikan pasar modal syariah. Kita biayai negara, kita biayai dunia. Bismillah," tambah Yusuf.

Sebagai informasi, PAM merupakan perusahaan manajer investasi di bawah PT Veritra Sentosa International yang memiliki produk financial technology (fintech) Paytren.

Penyebab Asing Hindari Pasar Primer

Market.bisnis.com – Jakarta – Investor asing terpantau terus mengurangi kepemilikannya dalam obligasi pemerintah dan cenderung menghindari pasar primer selama beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan, posisi kepemilian asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) tradeable adalah senilai Rp808,34 triliun atau setara 39,22% dari total outstanding Rp2.060,78 triliun.

Posisi kepemilikan asing ini telah berkurang senilai Rp11,03 triliun bila dibandingkan dengan posisi kepemilikan asing pada akhir September lalu. Saat itu, kepemilikan asing mencapai Rp819,37 triliun, atau 40,03% dari total outstanding Rp2.046,93 triliun.

Pada bulan ini, asing terpantau tidak saja mengurangi kepemilikannya pada SBN di pasar sekunder, tetapi juga menghindari masuk di pasar perdana. Keterlibatan asing dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sangat minim.

Berdasarkan data DJPPR tentang hasil settlement lelang SUN, posisi kepemilikan asing pada SUN justru berkurang Rp1,16 triliun dibandingkan hari sebelumnya, padahal outstanding SUN bertambah Rp17,85 triliun dari hasil lelang itu.

Hal ini mengindikasikan rendahnya permintaan asing pada lelang SUN itu. Lelang tersebut memang hanya mendulang total permintaan investor senilai Rp34,14 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan empat lelang SUN sebelumnya yang rata-rata di atas Rp50 triliun.

Sementara itu, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk mendapat permintaan relatif rendah.

Permintaan investor hanya Rp17,32 triliun, padahal dalam tiga lelang sukuk sebelumnya permintaan investor stabil di atas Rp26,4 triliun.

I Made Adi Saputra, fixed income analyst MNC Sekuritas, mengatakan keluarnya asing erat terkait dengan pelemahan rupiah beberapa waktu belakangan. Rupiah yang saat ini cenderung bergerak di kisaran Rp13.500 per dolar menambah kekhawatiran asing terhadap potensi pelemahan lebih lanjut.

Hal ini terkait erat dengan sentimen pengetatan moneter Amerika Serikat yang akan dimulai bulan ini serta proposal pemangkasan pajak oleh Presiden Donald Trump.

Di sisi lain, data realisasi penerimaan pajak negara per September 2017 yang baru sekitar 60% dari target menambah sentimen negatif dari sisi domestik.

Pasar menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan pemerintah menambah utang untuk menutup defisit anggaran sehingga likuiditas pasar mengetat.

“Sebenarnya mereka juga memanfaatkan momentum ini karena selama ini masuk terus-terusan. Sekarang momentumnya pas, rupiah terdepresiasi, sementara yield lagi sangat rendah, sehingga lebih baik bagi mereka untuk profit taking,” katanya.

Ramdhan Ario Maruto, associate director fixed income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa permintaan investor di pasar primer lelang sukuk kemarin yang berada di bawah Rp20 triliun mencerminkan sikap hati-hati pasar karena ketidakpastian eksternal semakin meningkat.

Uji Coba Sistem Penjualan SBN Ritel Online Hingga Akhir Tahun

Finansial.bisnis.com – Jakarta – Investree masih melakukan uji coba system penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel online sampai akhir tahun ini, ungkap Co-Founder & CEO Investree, Adrian Gunadi.

"Kita lagi fokus uji coba system dulu sampai dengan akhir tahun, Januari akan kita launching," kata Adrian

Sebelumnya PT Investree Radhika Jaya atau Investree ditunjuk sebagai pilot project pengembangan sistem penjualan Surat Berharga Negara (SBN) untuk investor ritel secara online.

Pilot project tersebut akan diimplementasikan pada tahun 2018 guna mendukung keuangan inklusif, memperluas basis investor ritel domestik, serta mempermudah akses investasi ritel untuk masyarakat di Indonesia.

Dia mengatakan pengembangan sistem tersebut sebagai terobosan yang dilakukan oleh pemerintah sekaligus memberikan alternatif mekanisme penerbitan SBN ritel.

Oleh karena itu, nantinya para peminjam borrower) dan pemberi pinjaman (lender) akan mendapatkan akses untuk membeli SBN melalui Investree.

“Ini dapat mengembangkan investasi ritel di Indonesia dengan menambah aset kelas yang didistribusikan melalui platform kami,” kata Adriannya.

Menurut Global Retail Development Index (GRDI) 2016, Indonesia berada di peringkat 5 negara dengan sektor bisnis ritel paling potensial di dunia. Adrian meyakini dengan tugas baru yang diberikan dapat menumbuhkan keuangan di Indonesia.

Selain itu, katanya, transformasi investasi juga sedang mengalami pergeseran dari investor institusi ke investor ritel seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi.

“Ada beberapa faktor yang membuat sektor ritel di Indonesia terus tumbuh dan menarik minat investor, salah satunya adalah jumlah penduduk dan meningkatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia,” tambah Adrian.

Investasi Sukses, Pahami 5 Prinsip Dasar Investasi

Republika.co.id – Bagi yang telah memiliki penghasilan tetap setiap bulannya, sudah waktunya mulai melakukan investasi. Kegiatan ini akan membantu lebih mudah dalam mencapai berbagai tujuan keuangan yang dimiliki, bahkan tujuan keuangan yang membutuhkan dana besar sekalipun.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa Anda jadikan pilihan yaitu investasi yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek bisa berupa deposito, emas, obligasi, saham, ataupun reksa dana.

Lakukan investasi dengan memahami prinsip dasar dalam investasi itu terlebih dahulu sehingga berbagai hal lainnya menjadi lebih mudah dan jelas. Berikut ini adalah beberapa prinsip dasar investasi yang wajib Anda pahami dengan baik agar niat investasi makin mantap.

1. Investasi punya risiko. Jadi, bersiaplah untuk menghadapinya. Semua instrumen investasi akan memiliki risiko dan hal ini sangat penting untuk Anda pahami dengan baik sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Meskipun begitu, tingkat/persentase risiko yang dimiliki setiap instrumen investasi akan berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Hal inilah yang kerap dijadikan sebagai salah satu pertimbangan saat akan memilih instrumen investasi tertentu.

Semakin besar potensi keuntungan yang bisa didapatkan, semakin besar juga risiko yang mungkin harus dihadapi dalam investasi.

2. Investasi menguntungkan karena imbal hasil. Sebelum melakukan investasi, sangat penting untuk mengetahui besaran imbal hasil/keuntungan yang bisa didapatkan dari kegiatan tersebut.

Balik hasil ini akan berbeda-beda, tergantung pada jenis instrumen, risiko, dan jangka waktu investasi yang akan dipilih nanti. Perbedaan imbal hasil pada tiap-tiap instrumen ini tentu akan menjadi salah satu alasan penting bagi Anda untuk bisa lebih jeli dalam memilih instrumen investasi tertentu yang paling sesuai dengan keuangan.

Semakin besar imbal hasil yang didapatkan, maka akan semakin baik dan menguntungkan bagi investasi yang kamu lakukan.

3. Tingkat likuid instrumen investasi juga menjadi hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Maksudnya, apakah investasi yang dilakukan mudah diubah dalam bentuk uang atau tidak?

Hal ini berkaitan dengan waktu proses pelepasan/penjualan kembali instrumen investasi yang Anda miliki.  Semakin cepat, semakin baik bagi keuanganmu.Sebab akan selalu banyak risiko yang bisa terjadi sewaktu-waktu pada investasi yang Anda lakukan.

Berbagai risiko ini bisa saja memengaruhi nilai investasi itu secara signifikan. Inilah alasan utama mengapa sangat penting untuk selalu mempertimbangkan seberapa mudah investasi tersebut dicairkan sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

4. Amankan investasi dengan diversifikasi. Membagi risiko investasi dalam beberapa intrumen yang berbeda adalah langkah yang sangat bijak dan tepat.

Sebab hal ini akan memberi Anda kesempatan untuk “mengamankan” sebagian investasi apabila sewaktu-waktu terjadi masalah pada salah satu instrumen investasi tersebut.  Diversifikasi ini sangat penting untuk dilakukan dalam investasi, bahkan meski Anda memiliki keyakinan yang sangat besar pada salah satu instrumen investasi tertentu.

Gunakan tiga atau empat instrumen investasi yang berbeda supaya terhindar dari risiko besar yang mungkin terjadi. Jika satu dari tiga instrumen investasi yang Anda miliki mengalami kegagalan, Anda masih bisa mengandalkan dua instrumen investasi lainnya.

5. Jangka waktu pengembalian (return). Berhasil atau tidaknya investasi juga sangat tergantung pada jangka waktu investasi itu sendiri.

Hal ini tentu akan berkaitan dengan komitmen dan disiplin Anda dalam mengelola investasi. Jika Anda berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang yang berusia 10 tahun ke atas, tetapi menjualnya saat instrumen tersebut baru berusia tiga tahun, besar kemungkinan Anda tidak akan mendapatkan imbal hasil yang maksimal atas investasi ini.

Bukan hanya itu, hal ini juga akan berisiko menimbulkan sejumlah kerugian dalam keuangan Anda. Selalu pahami dengan baik pentingnya untuk memilih dan menjaga investasi sesuai dengan jangka waktu yang paling efektifsupaya nilainya tidak merosot.

(Cermati dan Republika).

Kelompok Pembeli ORI014

Market.bisnis.com – Jakarta – Dari 11 kelompok profesi investor ritel yang membeli ORI014, kelompok profesi terbesar yang membeli adalah dari kelompok ‘lainnya’.

Berdasarkan pengumuman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kesebelas kelompok pembeli ORI014 yakni pegawai swasta, wiraswasta, ibu rumah tangga, pegawai otoritas/lembaga/BUMN/BUMD, professional, PNS, pensiunan, TNI Polri, pelajar/mahasiswa, pekerja seni, dan kelompok kategori lainnya.

Menariknya, dari kesebelas kelompok tersebut, pembelian terbesar dilakukan oleh kelompok kategori lainnya, yakni 43,16%. Sementara tiga terbesar lainnya yakni pegawai swasta 15,29%, wiraswasta 15,39%, dan ibu rumah tangga 7,44%.

Selain itu, bila dibandingkan dengan tahun lalu, persentase pembelian oleh kategori lainnya mengalami peningkatan paling tinggi. Padahal, 10 kategori yang lain justru turun, kecuali PNS yang meningkat tipis.

Tahun lalu, persentase pembelian ORI013 oleh kelompok kategori lainnya ini hanya 17,15%. Dengan catatan total pemesan tahun lalu berjumlah 34.331 pemesan, maka total pemesan dari kategori ini adalah 5.888 pemesan.

Tahun ini, dengan persentase pembelian mencapai 43,16%, kelompok lainnya ini mewakili 9.876 pemesan dari total pemesan ORI014 tahun ini sebanyak 22.882 pemesan. Jumlah ini jelas lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Peningkatan pemesan dari kelompok profesi kategori lainnya ini terjadi di saat 10 kelompok profesi yang lain justru kurang meminati ORI014 akibat kuponnya yang terlampau rendah. ORI014 dengan kupon 5,85% hanya mendulang pemesanan Rp8,98 triliun, padahal ORI013 tahun lalu dengan kupon 6,6% mencapai Rp19,85 triliun.

Schneider Siahaan, Direktur Strategi dan Portofolio Utang DJPPR Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa berdasarkan form data KTP, terdapat 88 jenis pekerjaan dari para pembeli ORI014. Dari jumlah tersebut, hanya 10 kategori yang disebutkan secara jelas, sementara 78 lainnya disatukan dalam kelompok ‘lainnya’.

Besarnya jumlah profesi yang tergabung dalam kelompok lainnya inilah yang menyebabkan persentase pembelian dari kelompok ini terlihat paling besar. Dirinya tidak merinci lebih detail profesi apa saja yang dimaksud dalam 78 profesi itu.

Menurutnya, apapun jenis pekerjaannya pada profesi ini, yang jelas terdapat kecenderungan kelompok ini memiliki banyak produktivitas sehingga menghasilkan pendapatan yang cukup tinggi sehingga masih tersisa setelah dikonsumsi.

Kelompok ini juga mungkin memiliki dana cukup besar yang memerlukan instrumen untuk membiakkannya.

“Kelompok ini memiliki kesadaran untuk berinvestasi yang cukup tinggi, baik untuk tujuan konsumsi di masa depan ataupun tujuan mengembangkan jumlah dana yang dimilikinya, sehingga mendorong mereka untuk membeli ORI lebih banyak,” katanya.

1 2 3 27