BTPN dan Bank Danamon Tutup Puluhan Kantor

Keuangan.kontan.co.id – Jakarta – Sejumlah bank tengah getol mendorong ekspansi ke arah digital perbankan yaitu BTPN dan Bank Danamon.

Dalam riset yang dilakukan oleh Mandiri Sekuritas (Mansek), bahwa BPTN tengah fokus menggodok transformasi perseroan ke arah digital dengan mendorong e-channel. Alih-alih mewujudkan hal itu, BTPN juga telah melakukan beragam perubahan organisasi, kantor cabang dan sumber daya manusia (SDM).

Pihak BTPN juga sudah melakukan opsi pengembangan karir hingga pensiun sukarela karyawannya sejak bulan Agustus 2017 lalu. Mansek dalam analisisnya juga menyebut, pihak manajemen BTPN mengestimasi lewat program pengembangan karir dan pensiun sukarela ini akan mengurangi beban operasional mencapai Rp 700 miliar pada akhir kuartal IV 2017.

Dus, selain efisiensi karyawan, BTPN disebut Mansek juga akan melakukan pengurangan lebih dari 40% kepala cabang perseroan. Tidak hanya itu, BTPN juga disebut berencana untuk memangkas sekitar 50% kantor cabang yang tersebar di Indonesia.

Diharapkan, langkah efisiensi ini akan mampu mendongkrak pendapatan serta mengurangi biaya operasional sampai dengan tahun 2019 mendatang.

Jika melihat laporan keuangan kuartal III 2017, BTPN memang terlihat sudah melakukan sejumlah pemangkasan. Paling tidak, sejak akhir Desember 2016 sampai akhir September 2017 pihaknya sudah mengurangi 1 kantor cabang utama, dan menutup 116 kantor cabang pembantu (KCP). Namun, pihaknya justru menambah 49 ATM dan Teller Cash Recycler (TCR) dalam sembilan bulan terakhir menjadi 203 unit. Perseroan juga menambah 18 payent service point serta 1 kantor fungsional operasional (office channeling) sampai bulan September 2017.

Sementara itu mengenai perihal pemangkasan kantor, ketika dimintai keterangan pihak BTPN masih enggan untuk berkomentar.

Sebagai informasi, dari sisi kinerja sampai dengan kuartal III 2017 BTPN membukukan pertumbuhan satu digit. Tercatat, laba bersih perseroan turun 2% dari periode tahun lalu menjadi sebesar Rp 1,4 triliun. Penurunan tipis laba ini disebabkan karena pendapatan bunga bersih yang naik tipis 9% secara yoy. Selain itu, biaya operasional tercatat naik tipis 2% secara yoy.

Selain itu dari sisi kredit, tercatat tumbuh sebesar 5% year on year (yoy) menjadi Rp 62,6 triliun. Adapun, total aset naik 9% secara yoy menjadi Rp 93,8 triliun.

Jerry NG, Direktur Utama BTPN mengatakan bahwa pihaknya mencatat investasi IT sampai September 2017 mencapai Rp 624 miliar. Angka ini diakuinya naik 77% secara tahunan.

"Selama tiga tahun terakhir, kami telah menanamkan investasi lebih dari Rp 1,4 triliun untuk pengembangan platform digital," kata Jerry.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga melakukan hal yang sama dengan melakukan penutupan kantor cabang pembantu konvensional dan Danamon Simpan Pinjam (DSP).

Mengutip laporan keuangan kuartal III 2017, Bank Danamon sudah menutup sebanyak 153 kantor cabang pembantu konvensional dan DSP menjadi 1.048 kantor.

Selain itu, bank bersandi emiten BDMN ini juga menutup kntor cabang utama (KCU) dan kantor cabang pembantu syariah sebanyak 4 kantor sejak akhir September 2016 hingga akhir September 2017 lalu menjadi sebanyak 10 kantor.

Adapun, efisiensi yang dilakukan Bank Danamon juga berhasil menurunkan beban kantor secara gradual dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 1,01 triliun atau menghemat sekitar Rp 68 miliar.

Menanggapi perihal efisiensi, Direktur Keuangan Bank Danamon Vera Eve Lim mengatakan pihaknya memang tengah melakukan transformasi serta pengelolaan biaya operasional yang baik serta mengupayakan penurunan biaya kredit (cost of kredit) yang lebih rendah.

"Strategi bisnis kami sudah pada jalurnya dan ke depan kami akan tetap fokus pada consumer, small, medium, enterprise banking, mortgage dan syariah. Kami akan terus melakukan reposisi terhadap peluang bisnis, produk dan distribusi agar terus tumbuh dan relevan terhadap kebutuhan pasar," jelas Vera.

Sekadar tambahan informasi, sampai dengan sembilan bulan pertama tahun 2017 Bank Danamon menyebut berhasil meraup laba bersih setelah pajak tumbuh 21% yoy menjadi Rp 3,03 triliun dibanding capaian periode yang sama thaun lalu Rp 2,51 triliun.

Meski laba tumbuh dua digit, penyaluran kredit Bank Danamon hanya naik tipis sebesar 2% yoy menjadi Rp 126,88 triliun di kuartal III 2017.

OJK: Pasar Keuangan Indonesia Tetap dalam Kondisi Baik

Economy.okezone.com – Jakarta –  Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlangsung di Jakarta, menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia tetap terjaga dengan baik.

OJK menyebutkan stabilitas sistem keuangan tersebut terpengaruh oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi global karena perbaikan ekonomi di negara maju di Eropa dan Amerika Serikat.

Penguatan ekonomi ini juga didukung oleh ekspektasi pelaku pasar keuangan terhadap kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang memulai normalisasi balance sheet pada Oktober 2017 serta rencana menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) pada Desember 2017 .

Kondisi perekonomian domestik ikut terjaga oleh penurunan suku bunga Bank Indonesia selama dua kali pada Agustus dan September 2017.

Di pasar keuangan domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga terus mencatatkan penguatan pada September 2017.

Meski terjadi net sell nonresiden sebesar Rp11,2 triliun, IHSG masih meningkat 0,6% pada September 2017, lebih tinggi dari periode Agustus 2017 sebesar 0,4%, yang didukung oleh investor dalam negeri.

Sementara itu, investor nonresident masih mencatatkan net buy di pasar SNB sebesar Rp34,2 triliun yang mendorong imbal hasil SBN tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing turun 15,1 bps, 14,6 bps dan 24,8 bps.

Kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan berada pada level moderat, dengan kinerja kredit perbankan pada September 2017 tercatat tumbuh 7,86% (yoy), dan piutang pembiayaan tumbuh sebesar 8,16% (yoy).

Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2017 juga tercatat tumbuh sebesar 11,69% (yoy) dan premi asuransi jiwa tercatat tumbuh menjadi 37,8%(yoy) serta premi asuransi umum dan reasuransi meningkat menjadi 4,35%(yoy).

Pada periode Januari-September 2017 tercatat 118 emiten yang melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal dengan nilai sebesar Rp182,2 triliun atau meningkat sebesar 32,1% dibandingkan periode sama 2016.

Dari 118 emiten yang melakukan penghimpunan dana tersebut, terdapat 29 emiten baru, sehingga target 21 emiten baru di 2017 telah tercapai.

Risiko kredit terpantau turun pada September 2017 dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat membaik menjadi 2,93% dibandingkan Agustus 2017 sebesar 3,05%, dan rasio NPF perusahaan menjadi 3,18%, dari Agustus 2017 sebesar 3,31%.

Ke depan, OJK melihat proses pemulihan ekonomi global semakin solid dan akan berdampak positif pada kinerja perekonomian domestik dan sektor jasa keuangan Indonesia.

Seiring dengan tren penurunan suku bunga, OJK memproyeksikan terdapat ruang bagi sektor jasa keuangan untuk berkontribusi dalam memacu pertumbuhan ekonomi domestik dengan mendorong penyaluran dana.

Secara keseluruhan, OJK terus mencermati perkembangan risiko pasar seiring dengan pelaksanaan normalisasi kebijakan moneter di AS dan Eropa.

Ekonomi Mengalami Kelesuan, namun Laba Bank Naik

Keuangan.kontan.co.id – Jakarta – Saat ekonomi lesu, laba bersih beberapa bank besar yang sudah merilis laporan keuangan sampai September 2017 tercatat tumbuh dua digit.

Terbaru PT Bank Mandiri (persero) Tbk  mengumumkan bahwa laba sepanjang sembilan bulan 2017 sebesar Rp 15,07 triliun atau naik 25,4% secara tahunan atau year on year (yoy).

Bank besar lain seperti BNI mencatat laba yang tak kalah mentereng yaitu sebesar Rp 10,16 triliun atau naik 31,6% secara yoy.

PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk (BTN) juga kemarin mengumumkan realisasi laba sampai September 2017 sebesar Rp 2 triliun naik 24% secara yoy.

Aslan Lubis, Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK bilang kinerja bank yang tumbuh dua digit di saat industri masih lesu ini karena bank menjadi makin efisien.

"Efisiensi yang membaik ini menjadi indikasi perbaikan kinerja," kata Aslan.

Secara umum OJK mengakui bahwa kinerja bank besar terutama bank BUMN pada tahun ini banyak didorong oleh faktor masifnya penyaluran kredit infrastruktur.

Tardi, Direktur Perbankan Ritel Bank Mandiri bilang kinerja bank yang membaik ditopang salah satunya karena produktivitas yang membaik.

"Selain itu kinerja juga membaik karena pencadangan yang menurun," kata Tardi.

OJK Menduga Banyak Koperasi Bodong

Keuangan.kontan.co.id – Solo – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah memonitor Satuan Tugas (Satgas) pengawasan koperasi memperkuat tugas dan fungsinya di daerah. Penguatan pengawasan sangat penting agar koperasi di daerah tumbuh sehat dan berkualitas.

"Dengan adanya pengawasan tehadap kinerja koperasi secara menyeluruh koperasi di daerah dapat tumbuh sehat, memiliki jati diri sesuai prinsip perkoperasian serta berdaya saing tinggi," kata Suparno, Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi UKM

Faktor lain dari pentingnya pengawasan, lanjut Suparno, untuk mendeteksi kemungkinan koperasi dimanfaatkan oknum tertentu melakukan kegiatan yang merusak keberadaan koperasi dan merugikan anggota. Dia mencontohkan, koperasi dijadikan sebagai tempat pencucian uang atau pembiayaan buat kegiatan terorisme. "Penyimpangan itu harus dicegah," kata Suparno.

Tim Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencurigai ada 48 lembaga, 12 di antaranya koperasi, melakukan kegiatan ekonomi tak benar alias bodong. Kini, pengawasan terhadap 48 lembaga tersebut dilakukan lebih dalam.

"Di antara koperasi yang masuk daftar OJK tersebut, ada yang mau memperbaiki setelah kami lakukan pembinaan terhadap koperasi bersangkutan," terang Suparno.

Dengan pengawasan berjenjang sesuai kewenangan masing-masing, ia berharap ke depan tidak ada lagi kasus yang merusak nama koperasi.

Suparno menambahkan Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya melakukan perbaikan regulasi agar tidak ada celah bagi oknum tertentu yang ingin merusak keberadaan koperasi. Selain itu, Kementerian juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait lain, termasuk dengan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK).

Strategi Pemerintah untuk Pasar tradisional agar Dapat Bersaing dengan Ritel Modern

Merdeka.com – Jakarta – Kementerian Perdagangan selalu melakukan revitalisasi pasar tradisional. Adapun revitalisasi tersebut tidak hanya berupa perbaikan fisik, melainkan juga pengelolaan serta akses barang modal yang lebih murah bagi para pedagang pasar.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan setelah revitalisasi, demi terciptanya kemandirian pasar tradisional, pemerintah berupaya agar pengelolaan pasar dijalankan Unit Pelaksana Teknis (UPT) independen. Dia mengatakan implementasi UPT ini selanjutnya akan menjadi tanggung jawab masing-masing pemerintah daerah.

"UPT tergantung dari masing-masing daerah. Ada yang sudah menjadi PD, PT, macem-macem," ungkapnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.

Dengan pengelolaan pasar dilakukan oleh UPT, maka setiap pemasukan seperti retribusi tidak semuanya akan langsung diserahkan ke daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Melainkan akan dikelola oleh UPT tersebut untuk pengembangan dan pemeliharaan pasar.

"Ada Perda yang mengatur bahwa uang itu masuk menjadi PAD. Kemudian untuk pengelolaannya mengajukan di dalam pos APBD. Nah kalau itu menjadi unit sendiri, kami akan usulkan agar itu menjadi unit yang ada penerimaan, ada pengeluaran dipertangungjawabkan nanti. Sisanya baru masuk sebagai deviden atau sebagai PAD, tapi tidak bisa semuanya masuk (ke PAD)," kata dia.

Politisi Nasdem ini berharap pengelolaan pasar secara independen dapat membawa suasana baru pada wajah pasar tradisional. Sehingga transaksi di pasar-pasar tradisional akan meningkat dan turut mengerek perekonomian masyarakat.

"Kita mau dibangun, kemudian pelihara biar rakyat nyaman dalam bertransaksi, pedagang juga nyaman dalam melakukan kegiatan perdagangan. Dia menjual dengan enak, sebab kalau pasar itu kumuh, bau, becek, bagaimana dia bisa bersaing dengan ritel modern," tegasnya.

Menteri Enggar meminta agar pengelola pasar tidak bermain-main dengan dana revitalisasi pasar tradisional yang diberikan. "Ibu bapak pelihara dengan bertanggung jawab. Ini urusan sama rakyat kecil dan pedagang kecil," ungkapnya.

Sebab, dengan masuknya dana anggran pendapatan dan belanja negara (APBN) dalam proyek revitalisasi pasar, maka penggunaan dan pemanfaatannya akan diawasi dengan sangat teliti. "Karena ini ada dana APBN maka pengelolaan itu kami laporkan ke BPK sebab atas penerimaan itu, kami minta pemeriksaannya," kata dia.

Menteri Enggar pun menegaskan pelaksaan program revitalisasi pasar yang dijalankan dengan baik dan bertanggung jawab akan dapat memberikan kesan dan warna baru pada wajah pasar tradisional Indonesia.

Menurut dia, keberlangsungan pasar tradisional mesti terus dijaga dan dikembangkan sebagai pusat perdagangan dan sosialisasi masyarakat. "Pasar itu harus tetap ada karena satu perdagangan riil adanya di pasar dan di situlah masyarakat yang biasa tawar menawar, kehidupan dengan interaksi sosialnya berjalan dengan baik," tandasnya.

1 2 3 4 5 25