Perusahaan E-Payment Indonesia Melakukan Ekspansi di Arab Saudi

Dream.co.id – Jeddah – Perusahaan e-payment asal Indonesia, PT Finnet Indonesia membuat gebrakan dengan ekspansi bisnis ke Arab Saudi. Ekspansi itu ditandai dengan penandatanganan piagam kerja sama dengan Halawani Exchange di Jeddah, Arab Saudi.

Bisnis dan Marketing Direktur PT Finnet Indonesia Syaiful Rahim Soenaria mengatakan Halawani merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor usaha. Selain jasa, Halawani juga bergerak di sektor keuangan, pariwisata hingga bisnis makanan dan minuman.

Finnet dan Halawani akan bekerja sama dalam layanan remittance di Arab Saudi dengan sasaran para pekerja Indonesia. Pekerja Indonesia nantinya dapat mengirimkan uang kepada keluarga di daerah asalnya, melalui cash to bank maupun cash to cash.

Untuk cash to bank, Finnet meneruskan kiriman uang secara langsung ke seluruh bank di Indonesia. Untuk cash to cash, Finnet meneruskan kiriman uang secara langsung pada seluruh outlet Pegadaian dan Alfamart

Di tahap berikutnya Finnet akan membuka layanan billing payment di outlet Halawani. Sehingga pekerja Indonesia di Arab Saudi dapat membayar tagihan listrik, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, tagihan multi finance, asuransi, maupun melayani isi ulang pulsa semua operator di Indonesia.

Konsul Jenderal RI Jeddah, M Hery Saripudin sangat mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh Finnet Indonesia untuk dapat melebarkan sayap bisnisnya ke pasar Arab Saudi mengingat pasar arab Saudi mempunyai captive market yang besar.

" Ini merupakan peluang besar bagi Finnet khususnya terkait dengan layanan remittance mengingat banyaknya Warga Negara Indonesia yang bekerja di Arab Saudi ditambah dengan besarnya jumlah jemaah Haji dan Umrah yang datang ke Arab Saudi setiap tahun," ucap Hery.

Sementara itu Kepala ITPC Jeddah Gunawan berjanji akan memberikan pendampingan dan memfasilitasi pengembangan kerja sama Finnet dan Halawani. Dia berharap kerja sama ini tak hanya bernilai untuk Finnet dan Halawani.

" Namun yang paling penting dapat memberikan benefit lebih dan value kepada peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi khususnya bagi pekerja Indonesia," ucap dia.

PT Finnet Indonesia (Finnet) merupakan salah satu anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk yang bergerak di bidang pembayaran elektronik. Finnet berdiri pada 2006 dengan kepemilikan saham 60 persen Telkom dan 40 persen Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia.

Finnet sampai saat ini memiliki tiga portofolio bisnis antara lain bill payment agregator, online payment solution and e-gov, dan electronic payment platform. Dari portofolio tersebut, Finnet mengelola 67 juta transaksi per bulan, dengan jumlah dana di-settle mencapai Rp. 6 Triliun per bulan. Layanan remittance Finnet telah beroperasi di negara Hongkong, Taiwan, Jepang, Malaysia dan Timor Leste.

Apakah Aturan Menghambat Program Padat Karya Dana Desa?

Nasional.kontan.co.id – Jakarta – Keinginan Presiden Joko Widodo agar Dana Desa bisa dimanfaatkan untuk menciptakan proyek padat karya yang mengalami ganjalan. Sejumlah regulasi dinilai masih mengganjal program tersebut.

Regulasi pertama, Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) No. 13 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa.

Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengatakan, peraturan tersebut agak menyulitkan.

Pasalnya, beleid tersebut mengatur pengadaan barang dan jasa kompleks dan nilainya di atas Rp 200 juta tidak bisa dikerjakan dengan model swakelola. Beleid kedua, Peraturan Menteri Keuangan No. 112 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa.

Pasalnya dengan ketentuan tersebut daerah yang 90% desanya belum melaporkan penggunaan Dana Desa mereka pada periode sebelumnya, belum bisa mencairkan Dana Desa. Eko mengatakan, masalah tersebut sudah teratasi.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan menurutnya, sudah mau memperlonggar syarat tersebut. "Menkeu dalam rapat terbatas kemarin sudah sepakat ini akan diperlunak," katanya.

Sementara itu, berkaitan dengan peraturan kepala LKPP, akan direvisi. Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas tentang Optimalisasi Penciptaan Lapangan Kerja yang digelar pekan lalu ingin agar penciptaan lapangan kerja di daerah dipacu. Salah satu upaya yang dia perintahkan agar penciptaan lapangan kerja dilakukan, optimalisasi pemanfaatan Dana Desa.

"Lakukan kerjaan secara swakelola sehingga bisa menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya di desa dan di daerah serta menyerap tenaga kerja sebanyak- banyaknya," katanya.

Eko mengatakan, akan melaksanakan perintah tersebut. Pihaknya akan alokasikan 30% dari Rp 60 triliun Dana Desa yang digelontorkan 2018 nanti.

Dana Desa ini akan dialokasikan untuk program swakelola agar bisa menciptakan proyek padat karya bagi masyarakat. Harapannya, dengan kebijakan tersebut 5,7 juta tenaga kerja bisa terserap.

Alasan Masyarakat Menahan untuk Membeli

Nasional.kontan.co.id – Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi rumah tangga periode Juli-September 2017 tumbuh 4,93% year on year. Angka itu melambat dibanding kuartal ketiga 2016 yang sebesar 5,01% yoy dan dibanding kuartal kedua 2017 yang sebesar 4,95% yoy.

Menurut para ekonom, penyebab pelemahan konsumsi rumah tangga adalah belum ada dampak yang terasa dari kenaikan harga komoditas yang baru terjadi pada awal tahun ini. Masyarakat pun lebih cenderung menyimpan uangnya lantaran ke depannya harga komoditas masih tak menentu.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, faktanya masyarakat desil 5-10 (kesejahteraan menengah-tinggi) menahan konsumsi. Hal ini tampak dari dana simpanan dana di perbankan.

“Mereka dapat earnings dari naiknya harga komoditas, tapi perilakunya berubah karena mereka melihat harga komoditas masih tak menentu. Jadi, mereka menahan tetapi bukan daya beli turun,” kata Josua di Gedung Kementerian Keuangan.

Menurut Josua, dalam hal ini perlu dilihat bukan dari konsumsi riilnya melainkan pendapatan riilnya. “Buruh tani dan bangunan memang turun, jadi yang terpengaruh yang 40% terbawah itu,” ucapnya.

Ekonom DBS Gundy Cahyadi mengatakan, dalam hal konsumsi rumah tangga, dirinya melihat ada perbedaan antara konsumsi barang yang diinginkan (discretionary) dan non discretionary atau konsumsi barang yang diperlukan

“Untuk barang yang kita perlu sebenarnya baik, tapi untuk barang yang kita mau itu yang lemah. Jadi, memang ada dampak dari harga komoditas,” kata dia.

Ia mengakui, daya beli memang mengalami sedikit softening. Pasalnya, pertumbuhan pendapatannya (wage growth) relatif rendah dan masih belum ditopang kenaikan harga komoditas. “Biasanya harga komoditas naik, earnings-nya naik. Translasinya ke wage growth, tapi kami belum lihat di 2017,” ujarnya.

Josua mengatakan, diharapkan program Padat Karya Tunai yang baru saja dicanangkan Presiden Joko Widodo bisa dorong dan jaga daya beli di tahun depan. Adapun stimulus pembebasan PPN bisa saja dilakukan, tetapi sikonnya belum memungkinkan.

“Ada potensi shortfall penerimaan pajak sementara infrastruktur pembangunannya masih didorong, bansos, makanya ruangnya terbatas,” kata Josua.

 

Sudah Pensiun? Lakukan 5 Tips Cerdas Agar Sejahtera

Republika.co.id – Jakarta – Pada saat masih muda pulalah, seseorang harus bekerja keras untuk mempersiapkan masa depan dan masa tuanya nanti. Dalam proses tersebut, mereka harus mulai memerhatikan tentang dana pensiun agar kelak masa tuanya lebih aman dan terjamin.

Jika Anda merupakan seorang pekerja atau memiliki usaha yang sedang dijalankan, ada baiknya mulai merancang masa pensiun sejak dini. Anda bisa memulainya dengan memaksimalkan tabungan dan investasi. Jangan sampai menjelang masa pensiun nanti, Anda masih saja bekerja keras sementara produktivitas sudah mulai menurun.

Sebelum masa itu tiba, persiapkan pensiun yang sejahtera secara maksimal dengan cara berikut ini.

Pertama, Alokasikan 20 persen Pendapatan untuk ditabung dan mulailah hidup hemat. Kata menabung dan hemat adalah dua kata bijak yang selalu hadir ketika membicarakan tentang mengatur keuangan. Bila berniat untuk mempersiapkan dana pensiun sejak dini, Anda wajib untuk menyisihkan uang dalam bentuk tabungan dan menjalankan pola hidup hemat.

Buatlah jadwal di setiap bulanya untuk mengalokasikan minimal 20 persen pendapatan untuk tabungan. Usahakan menabung secara rutin. Bila perlu, buatlah alarm khusus setiap tanggal gajiansupaya tidak lupa menabung. Hindari sebisa mungkin mengeluarkan uang hanya untuk memuaskan keinginan. Pilih mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan.

Kedua, susun daftar budget kebutuhan. Mungkin masing-masing orang akan berbeda. Orang yang pandai mengatur keuangannya tentu tidak akan lupa untuk membuat daftarbudget kebutuhan.

Dalam daftar budget tersebut, ada data keuangan yang membantu Anda dalam mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli sesuatu. Bagi yang belum pernah membuat daftarbudget kebutuhan, cobalah untuk membuatnya dengan sederhana.

Catatlah kebutuhan apa saja yang diperlukan setiap bulannya. Sebelum berbelanja, coba lakukan pengecekan, apakah ada yang tidak terlalu dibutuhkan? Jika ada, tiadakan hal tersebut dari daftarbudget dan sisihkan untuk dana pensiun.

Ketiga, bila memiliki utang, jadikan prioritas dalam daftar budget kebutuhan. Karena masih ada utang. Utang memang muncul karena adanya kebutuhan. Namun,kondisi keuangan belum dikatakan stabil dengan adanya utang ini.

Cara satu-satunya adalah masukkan utang sebagai prioritas dalam daftar budget kebutuhan. Dengan begitu, tiap bulannya utang selalu terbayarkan dan Anda terhindar dari tunggakan utang.

Sebab adanya tunggakan utang nantinya begitu membebani keuangan dan tak menutup kemungkinan tabungan pensiun terpakai untuk membayar utang tersebut. Ukuran amannya, 30 persen pendapatan dialokasikan untuk utang. Lebih dari itu pertanda dari tidak amannya kondisi keuangan.

Keempat, siapkan dana darurat 3x atau 9x pengeluaran. Dana darurat adalah sejumlah uang yang harus ada pada saat hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam kehidupan. Sebab kejadian apa pun bisa menimpa Anda setiap saat. Karena itu, dana darurat menjadi penting untuk dipersiapkan.

Lalu, apakah dana darurat  dan dana pensiun harus terpisah? Lebih baik terpisah karena dana darurat ini dipersiapkannya dalam hitungan bulan, sedangkan dana pensiun dikumpulkan hingga nantinya pensiun.

Idealnya, dana darurat itu tiga kali atau sembilan kali pengeluaran tiap bulan. Katakan saja pengeluaran per bulan Rp 5 juta. Itu berarti Anda mesti mempersiapkan dana darurat sebesar Rp 15 juta atau Rp 45 juta.

Cara mempersiapkannya, andaikan gaji Anda Rp 10 juta. Alokasi tiap bulan untuk kebutuhan Rp 5 juta (50 persen), utang/KPR Rp 3 juta (30 persen), dan tabungan/pensiun Rp 2 juta (20 persen). Tak ada salahnya mengambil setengah dari tabungan/pensiun untuk dana darurat hanya untuk sementara.

Sisihkan setengah dari tabungan/pensiun selama 15 bulan atau 45 bulan. Jangan lupa untuk menyesuaikan nominal di atas dengan kenaikan gaji.

Kelima, selesai dengan dana darurat, siapkan investasi. Saat ini investasi tidak hanya dilakukan para investor yang berkantong tebal saja. Investasi bisa dilakukan setiap orang yang menganggap masa depan itu adalah hal yang harus disiapkan. Saat ini ada berbagai jenis investasi yang bisa dipilih masyarakat awam.

Investasi dengan cara deposito di bank ataupun investasi emas rupanya masih menjadi pilihan investasi yang aman. Dengan berinvestasi, kita juga sudah mulai mempersiapkan masa pensiun kita nanti. Jika Anda ingin berinvestasi, lakukanlah setelah mempersiapkan dana darurat. Ambil setengah dari alokasi tabungan (10 persen pemasukan) untuk investasi.

Lakukan terus-menerus hingga pensiun. Sebab nantinya akan berguna sebagai dana pensiun. Jangan ditunda perencanaan keuangan masa pensiun karena pensiun itu pasti.

4 Tips Cerdas Finansial di Usia Muda

Personalfinance.kontan.co.id – Jakarta – Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh seseorang adalah tidak memiliki perencanaan yang matang. If you fail to plan, you plan to fail. Itulah ungkapan yang paling tepat menggambarkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Maka, hal dasar dalam cerdas mengelola keuangan adalah soal perencanaan.

Nah, bila sudah memiliki perencanaan, bagaimana selanjutnya? Pertanyaan demi pertanyaan pun kembali muncul. Memasuki tahap ini, seseorang perlu membuka diri untuk belajar. "Kalau kuliah, pelajaran pengelolaan finansial ini setidaknya butuh dua semester," terang Eko P Pratomo, Inisiator Gerakan Indonesia Cerdas Finansial, dalam Workshop Cerdas Finansial.

Namun jangan berkecil hati. Belajar sambil praktik akan bisa membuat seseorang lebih efektif menyerap ilmu lewat pengalaman. Tak ada kata terlambat untuk berbenah.

Praktisi keuangan dan investasi ini mengatakan, kesuksesan maupun kegagalan dalam pengelolaan finansial adalah soal mental. Sederhananya, bila seseorang ingin menabung, maka dia harus berani menyisihkan penghasilan. Dengan begitu, dia berani untuk mengurangi kesenangan. Uang yang disisihkan itu, disimpan untuk sesuatu yang lebih penting dimasa depan. Nah, inilah yang disebut soal mental.

Tentunya, pengetahuan ini bisa menjadi dasar untuk mulai sadar cerdas dalam mengelola finansial. Nah, berikut ini adalah beberapa tips yang disampaikan dalam Workshop Cerdas Finansial yaitu :

1. Sadari tujuan berinvestasi

Orang yang memiliki tujuan, dengan yang tidak memiliki tujuan jelas berbeda. Dengan memiliki tujuan, setidaknya kita mendapatkan gambaran tentang apa yang diinginkan. Berinvestasi, berarti kita ingin menabung untuk masa depan. Bisa untuk pendidikan, dana pensiun, maupun untuk mengembangkan investasi lainnya.

2. Pahami skala prioritas

Penting sekali memiliki skala prioritas mulai saat ini. Sebab, hal ini membuat kita bijak dalam menggunakan finansial. Dianjurkan, mulai saat ini memiliki dua rekening. Dimana rekening A untuk kegiatan operasional sehari-hari. Sedangkan rekening B untuk simpanan dana darurat. Apa itu dana darurat? Dana ini bisa digunakan dalam keadaan darurat dan tidak boleh digunakan untuk kebutuhan sekunder.

Besaran idealnya, bila menanggung satu orang, maka jumlahnya minimal sekitar 3 kali gaji bulanan. Namun, bila sudah berkeluarga, maka dana darurat tersebut harus disesuaikan dengan jumlah yang ditanggung. Nah, dana ini harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kita menginginkan hal lain. Artinya, harus siap tidak pergi travelling bila dana darurat tersebut belum mencapai target.

Bila dana darurat tersebut sudah dipenuhi, maka seseorang bisa menggunakan dana sisa ditabungan lain. Agar lebih bermanfaat, bisa digunakan untuk sesuatu yang produktif. Misalnya, bila dengan membeli sepeda motor ternyata bisa memangkas ongkos transportasi selama sehari-hari. Maka kendaraan tersebut memberikan nilai lebih. Namun, bila sebaliknya kendaraan tersebut tidak memberikan nilai produktif, maka sebaiknya ditunda. Sebab, bisa menjadi beban dimasa mendatang dan juga ada penurunan nilai barang.

3. Penting menyiapkan dana pensiun atau pendidikan anak?

Pertanyaann semacam ini tak jarang melintas. Eko menyampaikan menyiapkan dana pensiun itu lebih penting dibandingkan dengan menyiapkan pendidikan anak. Pasalnya, seorang anak masih bisa memiliki banyak pilihan dalam memenuhi pendidikan. Bisa lewat beasiswa misalnya.

Bandingkan dengan dana pensiun. Persiapan ini banyak ditempuh hanya oleh orang yang bersangkutan saja. Nah, oleh karena itu ini menjadi penting. Coba saja bayangkan, bila dana pendidikan itu lebih penting dari dana pensiun. Kalau memiliki anak tujuh, bagaimana coba? hehe

4. Jangan lupa berdoa

Segala upaya yang sudah dilakukan, tanpa didasari dengan doa menjadi masakan tanpa garam. Hambar. Semua kejadian dan rencana sudah ada yang mengatur. Semoga dengan berdoa akan menjadi rencana terbaik bagi kita. Juga semakin memantapkan niat seseorang untuk bisa menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, bijak dalam mengelola finasial bukan berarti membuat seseorang menjadi pelit dan enggan berbagi. Cerdas finansial, bisa juga meningkatkan kecerdasan spiritual dan sosial kita. Bila ada harta berlebih, maka akan indah bila berbagi dengan sesama. Karena Tuhan akan menambah nikmat hambanya lagi, bila mau berbagi.

1 2 3 4 25