Platform Nontunai Terus Tumbuh, BI Gencarkan Gerbang Pembayaran Terintegrasi

Finansial.bisnis.com – Lombok Barat – Platform dalam metode pembayaran nontunai yang banyak membuat industri menjadi terkotak-kotak dan cenderung ekslusif. Hal tersebut membuat mahalnya biaya lantaran diperlukan banyak kartu, EDC, dan ATM namun tidak dapat saling memproses.

Direktur Eksekutif Pusat Program Transformasi Bank Indonesia Aribowo mengatakan hal itulah yang mendorong Bank Indonesia untuk terus mendorong program gerbang pembayaran nasional (GPN) sebagai satu sistem metode pembayaran yang terintegrasi.

"Fee transaksi pembayaran tinggi dengan kisaran 1,6% hingga 2,2%. Selain itu proses transaksi domestik masih dilakukan di luar Indonesia dan sebagian besar settlement transaksi masih di bank komersial," ujar Aribowo di Senggigi, Lombok Barat.

GPN lanjut Aribowo, merupakan suatu sistem yang mengintegrasi berbagai kanal pembayaran yang memfasilitasi transaksi elektronik. GPN memungkinkan transaksi elektronik dapat digunakan seluruh masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan transaksi elektronik yang aman, berkualitas, dan efisien.

Dua hal yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan GPN adalah interkoneksi dan interoperabilitas. Interkoneksi merupakan kondisi di mana antar sistem atau infrastruktur dapat saling terhubung dan saling memproses.

Sementara itu, interoperabilitas adalah kondisi di mana instrumen dapat diterima dan diproses pada berbagai kanal pembayaran seperti ATM, EDC, dan payment gateaway.

"Misalnya di jalan tol, sebelum GPN instrumennya tidak efisien karena hanya dapat menggunakan uang elektronik dari bank tertentu dan satu merchant banyak EDC karena tidak semua kartu bisa diproses di seluruh EDC. Setelah GPN, seluruh uang elektronik dapat digunakan untuk pembayaran di setiap jalan ol dan satu merchant bisa hanya menggunakan satu EDC," ujar Aribowo.

5 Bisnis Syariah yang Berpotensi Menguntungkan

Financi.detik.com – Jakarta – Trend bisnis saat ini adalah bisnis halal. Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa potensi industri keuangan syariah di Indonesia cukup besar. Bahkan, potensi industri halal dan keuangan syariah global diprediksi tembus US$ 6,38 triliun di 2021.

Berikut adalah contoh bisnis halal yang bisa Anda kembangkan walau hanya dari rumah

1. Berjualan Camilan Halal
Membuka usaha makanan/ camilan merupakan bisnis yang sangat potensial karena makanan merupakan kebutuhan pokok manusia dan selalu dibutuhkan. Namun pastikan jika bahan-bahan yang digunakan serta diolahnya adalah jenis makanan yang halal.

Dan, kita juga perlu mempelajari usaha makanan/ camilan apa yang cocok dikerjakan di rumah dengan modal yang kecil. Inilah beberapa usaha makanan yang cocok dijalankan di rumah:

a. Berbisnis jualan aneka kue. Rata-rata masyarakat Indonesia menyukai kue-kue camilan seperti; brownies kukus, kue bolu, kue lapis, lumpia, donat, risoles, dan kue-kue lainnya. Jika rumah Anda berada di tempat yang cukup strategis, Anda bisa berjualan camilan ini di depan rumah dengan memasang display camilan Anda.

Jangan lupa untuk mempromosikan usaha kue Anda ke teman-teman, tetangga, dan keluarga. Dan manfaatkan momen-momen penting untuk meningkatkan penjualan usaha kue Anda, misalnya acara ulang tahun, lebaran, hari natal.

b. Berbisnis jualan gorengan. Hampir semua orang pasti menyukai gorengan. Hampir semua kalangan di masyarakat kita suka makan gorengan, seperti; pisang goreng, tahu goreng, tempe goreng, mendoan, bakwan, dan lain-lain.

Jika Anda mampu membuat fariasi gorengan yang unik dari gorengan biasa, kemungkinan besar untuk sukses dalam usaha gorengan ini akan semakin besar.

2. Bisnis Online Halal
Saat ini bisnis online merupakan salah satu bisnis paling ngetrend di Indonesia. Selain cenderung lebih mudah, lebih banyak jenisnya, biaya menjalankan bisnis online juga cenderung lebih murah dibandingkan dengan bisnis konvensional.

Beberapa jenis bisnis online yang saat ini sedang banyak dijalankan oleh masyarakat Indonesia adalah bisnis dropshipping busana muslim misalnya, atau, menjadi blogger dan publisher, membuat toko online, menjual jasa, bisnis afiliasi, dan masih banyak lagi.

Banyaknya pilihan dalam bisnis online memang tidak otomatis membuat kita lebih mudah untuk menjalankannya karena tidak semua jenis bisnis online bisa cocok dengan masing-masing orang. Sebagian orang mungkin lebih cocok menjalankan bisnis dropshipping. Ini tergantung minat dan kemampuan masing-masing orang.

3. Bisnis Handmade
Dibutuhkan seseorang yang memiliki kreatifitas tinggi untuk mengubah barang-barang bekas menjadi sesuatu yang baru dan bermanfaat. Salah satu contoh adalah memanfaatkan kain perca atau kain bekas yang diubah menjadi sebuah tas unik atau boneka cantik.

Saya sendiri belum pernah melihat langsung proses pembuatannya, tapi ada banyak orang yang berhasil memanfaatkan bahan-bahan bekas di sekitar mereka menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan.

4. Pulsa
Berkomunikasi dengan handphone sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Tentunya para pengguna telepon genggam ini akan membutuhkan pulsa agar dapat menggunakan gadget mereka tersebut. Nah, inilah peluang usaha rumahan yang bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena memiliki potensi keuntungan yang lumayan besar.

Dalam menjalankan bisnis berjualan pulsa elektrik, kita tidak membutuhkan modal yang besar. Yang perlu dipersiapkan untuk menjalankan usaha ini adalah sebuah perangkat handphone untuk melakukan pengiriman pulsa elektrik.

Namun bila Anda ingin menjalankan usaha tersebut dengan membuka konter karena ingin berjualan hp juga, maka modal yang dibutuhkan tentunya akan lebih besar. Selain biaya menyewa tempat, Anda juga harus mempertimbangkan biaya-biaya lain dalam menjalankan bisnis, misalnya biaya listrik, membuat etalase, dan lainnya.

5. Laundry
Usaha laundry ini bisa dimanfaatkan dan cocok bila dijalankan dekat dengan kampus dan juga kost-kostan mahasiswa dan pekerja kantoran. Biasanya mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencuci dan menyetrika pakaian mereka. Selain itu, hasil cucian dan setrikaan yang mereka lakukan sendiri sering tidak rapih sehingga mereka cenderung memilih untuk menggunakan jasa laundry.

Saat ini sangat banyak orang yang menggunakan jasa laundry pakaian, selain karena harganya yang sangat terjangkau juga karena hasil cucian dan setrikaan yang diberikan oleh penyedia jasa loundry biasnya lebih rapih dibandingkan bila mengerjakan sendiri. Melihat potensi yang baik dari bisnis ini, tentunya Anda harus mempertimbangkan untuk membuka usaha laundry pakaian.

Bila Anda tidak mau repot memulai dari nol, saat ini bisnis laundry sudah ada waralabanya juga. Anda hanya perlu menyediakan modal awal dan juga tempat untuk mulai berbisnis. Tapi biasanya waralaba bisnis laundry pakaian harganya cukup mahal.

Bila Anda tidak memiliki modal yang cukup untuk membeli waralaba, sebaiknya Anda memulai sendiri bisnis laundry ini.

BI Perkuat Sistem Moneter Syariah untuk Menghadirkan PLJP Syariah

Republika.co.id – Surabaya – Untuk memperkuat pertumbuhan keuangan syariah, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, menyiapkan dan mendalami sistem moneter syariah, maka BI sedang mematangkan sebuah instrumen berupa Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek (PLJP) Syariah.

"Ini akan kita luncurkan tahun ini juga," ungkap Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, di sela pembukaan secara resmi gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) IV 2017, Kamis lalu (9/11).

Agus menjelaskan PLJP Syariah dilunsurkan tak lain ingin meyakinkan industri keuangan syariah memiliki fasilitas pembiayaan sebagai salah satu bentuk prinsip kehati-hatian. "Jadi, seandainya ada industri keuangan syariah yang secara kondisi temporer tidak likuid, tapi secara perusahaan tetap /solvent/ (memiliki kemampuan membayar utang), dan membutuhkan pinjaman likuiditas jangka pendek, maka bisa mengakses ke BI," papar Agus.

Selain PLJP Syariah, instrumen lain yang juga sedang terus dilakukan pengkajian dan pendalaman adalah fasilitas Reverse Repurchase Agreement (Repo) secara syariah. Repo merupakan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dari BI ke perbankan dengan syarat akan dibeli lagi oleh BI dalam jangka waktu tertentu.

Agus menjelaskan PLJP Syariah merupakan salah satu cakupan sistem moneter syariah. Sistem moneter syariah dimaksud fokus pada bagaimana BI sebagai bank sentral berhubungan dengan perbankan dalam operasi moneter. PLJP Syariah sendiri merupakan salah satu bentuk operasi moneter bank sentral. Kenapa baru sekarang diluncurkan, "karena selama ini kita masih harus menyelaraskan dengan UU 9/2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK)," ujarnya.

Terkait pengembangan ekonomi syariah secara keseluruhan, Agus mengatakan melihat animo ISEF IV 2017, tercermin kesiapan yang cukup kuat. Mulai dari industri makanan halal, fashion, dan sebagainya. Kesiapan itupun sudah pula dibahas secara mendalam dan luas dalam Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), yang meliputi tiga pilar pengembangan ekonomi syariah, yang sudah disepakati di KNKS. Ketiga pilar itu adalah pendalaman keuangan syariah; pengembangan ekonomi syariah secara umum; dan pengembangan riset serta edukasi.

Sistem moneter syariah sendiri merupakan peran yang dijalankan BI sebagai bank sentral terkait pilar pendalaman keuangan syariah. Secara keseluruhan, dikatakan Agus, keuangan syariah Indonesia saat ini masih berkisar di angka lima persen dari total aset keuangan. "Kita optimistis bisa mencapai level 20 persen dalam waktu tidak terlalu lama, sekitar lima sampai sepuluh tahun," ujar Agus.

Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan sistem keuangan Islam itu tidak kenal krisis. "Berdasarkan pengalaman krisis beberapa kali, sistem ekonomi Islam tidak kenal krisis karena tidak dibolehkan berspekulasi. Selalu ada basis transaksinya. Karena itu tidak pernah terjadi krisis yang dimulai dari perbankan syariah," ungkap Kalla saat secara resmi membuka ISEF IV 2017. Kalla mencontohkan London, yang bukan negara Islam, tapi memiliki industri keuangan Islam cukup kuat.

Kalla mengungkapkan pemerintah sedang berupaya keras mengembangkan perekonomian syariah secara umum. "Selama ini kita selalu mengukur pembangunan dan kemajuan dari berapa besar pertumbuhan ekonomi. Tidak ada yang salah. Namun di sisi lain, kita juga perlu memperhatikan kualitas dan cara mencapai (pertumbuhan)," ujarnya.

Selama gelaran ISEF IV 2017, pembahasan lebih pada bagaimana mengembangkan ekonomi yang bukan hanya tumbuh tapi dilakukan dengan cara Islami dan sistem keuangan syariah. "Apapun yang dibicarakan dalam seminar-seminar di ISEF IV 2017 berujung pada bagaimana memulai berusaha secara Islami. Selama tidak haram bisa dijalankan."

Kalla pun berharap kegatan seperti ISEF bisa mendorong generasi muda mulai menjalankan usaha dengan cara-cara Islami "Tapi yang paling penting adalah tekad memulai berdagang, berindustri. Apapun yang kita bicarakan tapi tidak dijalankan, maka itu hanya terhenti di meja seminar saja," tandasnya.

Pertumbuhan Fintech Syariah yang Menggairahkan

Republika.co.id – Jakarta – Pengamat Fintech Syariah dari STEI Tazkia Murniati Mukhlisin memprediksi bahwa pertumbuhan financial technology berbasis syariah akan semakin menggairahkan. Dia memprediksi untuk selanjutnya akan lebih banyak lagi fintech yang mengurus perizinan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bank Indonesia (BI).

Murniati mengatakan, untuk fintech syariah di Indonesia perkembangannya akan semakin positif. "Fintech syariah itu pasti akan bertambah lagi. Prospeknya luar biasa," kata Murniati.

Murniati menyampaikan, proyeksi fintech syariah akan semakin berkembang karena banyak kaum lemah, tak berdaya, di lokasi terpencil, dan semacamnya itu memiliki kebutuhan. Dengan adanya peluamg fintech tersebut, menurutnya akan memberikan kesempatam di daerah tersebut untuk berekonomi syariah memlaui fasilitas teknologi.

Meskipun berpeluang namun Murniati menegaskan agar fintech syariah berpotensi maka harus didukung dengan teknologi baik. "Ini tergantung fasilitas teknologinya terutama yang bisa menjangkau daerah-daerah kecil juga," ujar Murniati.

Sebab, kata Murniati, 60 persen pembiayaan itu hanya terpusat di Pulau Hawa saja. Sementara 40 persen lainnya tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan lainnya dengan porsi yang lebih sedikit. "Padahal kan Pulau Jawa itu pulau kecil dibandingkan lainnya tapi pembiayaan masih banyak di sana. Untuk itu fasilitas teknologi juga harus mendukung di daerah-daerah lain," kata Murniati.

Kondisi ini menurut Murniati menunjukkan kalau pemerataan pembiayaan masih belum maksimal. Apalagi dengan pembiayaan syariah, kata Murniati, yang lasti akam lebih kecil dibandingkan fintech berbasis konvensional.

Soal hukum, Murniati mendesak OJK harus bisa membuat aturan yang lebih spesifik untuk fintech syariah. "Seperti yang masih kita dengan masih ada fintech syariah yang masih menggunakan bahasa konvensional seperti pinjaman, pembayaran, dan sebagainya. Bahasa harus ada regulasinya juga," ujar Murniati.

Perusahaan E-Payment Indonesia Melakukan Ekspansi di Arab Saudi

Dream.co.id – Jeddah – Perusahaan e-payment asal Indonesia, PT Finnet Indonesia membuat gebrakan dengan ekspansi bisnis ke Arab Saudi. Ekspansi itu ditandai dengan penandatanganan piagam kerja sama dengan Halawani Exchange di Jeddah, Arab Saudi.

Bisnis dan Marketing Direktur PT Finnet Indonesia Syaiful Rahim Soenaria mengatakan Halawani merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor usaha. Selain jasa, Halawani juga bergerak di sektor keuangan, pariwisata hingga bisnis makanan dan minuman.

Finnet dan Halawani akan bekerja sama dalam layanan remittance di Arab Saudi dengan sasaran para pekerja Indonesia. Pekerja Indonesia nantinya dapat mengirimkan uang kepada keluarga di daerah asalnya, melalui cash to bank maupun cash to cash.

Untuk cash to bank, Finnet meneruskan kiriman uang secara langsung ke seluruh bank di Indonesia. Untuk cash to cash, Finnet meneruskan kiriman uang secara langsung pada seluruh outlet Pegadaian dan Alfamart

Di tahap berikutnya Finnet akan membuka layanan billing payment di outlet Halawani. Sehingga pekerja Indonesia di Arab Saudi dapat membayar tagihan listrik, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, tagihan multi finance, asuransi, maupun melayani isi ulang pulsa semua operator di Indonesia.

Konsul Jenderal RI Jeddah, M Hery Saripudin sangat mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh Finnet Indonesia untuk dapat melebarkan sayap bisnisnya ke pasar Arab Saudi mengingat pasar arab Saudi mempunyai captive market yang besar.

" Ini merupakan peluang besar bagi Finnet khususnya terkait dengan layanan remittance mengingat banyaknya Warga Negara Indonesia yang bekerja di Arab Saudi ditambah dengan besarnya jumlah jemaah Haji dan Umrah yang datang ke Arab Saudi setiap tahun," ucap Hery.

Sementara itu Kepala ITPC Jeddah Gunawan berjanji akan memberikan pendampingan dan memfasilitasi pengembangan kerja sama Finnet dan Halawani. Dia berharap kerja sama ini tak hanya bernilai untuk Finnet dan Halawani.

" Namun yang paling penting dapat memberikan benefit lebih dan value kepada peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi khususnya bagi pekerja Indonesia," ucap dia.

PT Finnet Indonesia (Finnet) merupakan salah satu anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk yang bergerak di bidang pembayaran elektronik. Finnet berdiri pada 2006 dengan kepemilikan saham 60 persen Telkom dan 40 persen Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia.

Finnet sampai saat ini memiliki tiga portofolio bisnis antara lain bill payment agregator, online payment solution and e-gov, dan electronic payment platform. Dari portofolio tersebut, Finnet mengelola 67 juta transaksi per bulan, dengan jumlah dana di-settle mencapai Rp. 6 Triliun per bulan. Layanan remittance Finnet telah beroperasi di negara Hongkong, Taiwan, Jepang, Malaysia dan Timor Leste.

1 2 3 4 41