Kehutanan pun Masuk Lingkup Syariah tidak hanya Perbankan

Republika.co.id – Istambul – The 3rd International Conference on Islamic Perspective of Accounting, Finance, Economics and Management (IPAFEM) diadakan untuk ketiga kalinya. Pada saat ini Istanbul, kota turis di Turki, terpilih sebagai tuan rumah. Konferensi yang telah terlaksana pada Kamis-Jumat (23-24/11) diselenggarakan langsung atas kerja sama University of Glasgow dan University of Hasan Kalyouncu. Acara berlangsung di Yilzid Technical University.

Acara ini diselenggarakan dalam bentuk beberapa tema dalam presentasi yang disusun oleh Dr Hilmi Erdogan Yayla, Dr Murniati Mukhlisin, Prof Ros Hannifa, dan Dr Mohammad Hudaib. Banyak diskusi menarik yang dipandu oleh moderator. Terlihat antusiasisme peserta ketika membentangkan penelitiannya dan mengajukan pertanyaan.

Konferensi dihadiri oleh peserta yang berasal dari perbagai macam negara. Di antaranya Turki, Tunisia, Kashmir, Kuwait, Bangladesh, Qatar, Malaysia juga Indonesia. Indonesia sendiri diwakili oleh beberapa universitas Di antaranya ada STEI Tazkia dengan delegasinya Kholifah Mohammad Khusairi dengan riset berjudul "Establishing Maslahah Based Performance Model for Forestry Investment", Nashr Akbar dengan judul "Exploring Problems and Strategies to Improve Halal Tourism in Lombok, Nusa Tenggara Barat", dan Yaser Syamlan dengan topik "Irregular deposit, IFSB, and the investment account for the future of Indonesian Islamic Bank.”

Hadir juga Ries Wulandari dengan penelitiannya yang berjudul "Do Islamic Microfinance Practice Decrease the Level of Three Aspecs of proverty?", dilanjut dengan presentasi oleh Happy Febriana Hariani dengan tema "Halal Purchase Intention on Processed Food.”

Adapun peserta dari Indonesia lainnya adalah dari delegasi UIN Raden Fatah Palembang dengan papernya "The Influence of Organization Culture Toward Financial Reporting Quality and Its Impact on Good Governance.”

Masih banyak delegasi dari negara lain yang juga ikut menjadi topik menarik. Di antaranya "User of Corporate Reporting of Information oleh Ousama Anam dari Qatar University. "Outline of Islamic Economic Order" dipresentasikan oleh Mohammad Farooq Rather dari Jammu dan Kashmir Bank. Dan yang menariknya adalah paper terbaik diraih dari Indonesia yaitu delegasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan papernya yang bertajuk “Governance of Profit and Loss Sharing Financing of Achiving Socio Economic Justice.”

Semua peneliti dan praktisi yang hadir menyampaikan masukan dan kritik yang membangun yang dapat menjadi sumbangsih pekembangan industri syariah di dunia khususnya perkembangan perbankan syariah di negara masing-masing. Delegasi dari STEI Tazkia, Kholifah, dalam kesempatan itu menyampaikan tentang maslahah berbasis investasi kehutanan.

Hal ini, kata Kholifah, menunjukkan bahwa lingkup syariah tidak hanya pada sektor perbankan saja, tetapi menarik untuk diimplem entasikan pada sektor riil khususnya sektor kehutanan. "Dimana kita semua tahu bahwa hutan dunia sudah menurun dari segi pemanfaatannya," ujar dia dalam keterangannya kepada Republika.co.id, kemarin.

Menurut Kholifah, dengan investasi kehutanan, mampu mencerminkan sebagai investasi yang maslahah dari kaca mata Islam karena membawa manfaat buat bersama. Manfaat tidak hanya di dapatkan oleh Investor dan operator investasi tapi juga didapatkan manfaatnya buat para pemangku kepentingan, penduduk sekitar hutan, juga terpenting manfaat buat ummat dan keberlangsungan hidup alam semesta.

"Karena investasi hutan ini menghasilkan ribuan oksigen yang bisa dihirup oleh jutaaan manusia dan bisa menyelamatkan hutan dari kepunahan baik akibat dari siklus alam atau karena kecerobohan manusia," ujarnya.

Tips Kerja Bagi Fresh Graduate

Ekonomi.kompas.com – Ingin bekerja tanpa memiliki pengalaman bukan hal yang mudah dan bahkan bisa membuat frustrasi karena pekerjaan khusus untuk para fresh graduate pun membutuhkan bekal keahlian.

Berikut ini beberapa kiat sukses dalam memperoleh pekerjaan yang diinginkan yaitu :

1. Jalani wawancara informasional

Penasihat karier, Maggie Mistal, menyarankan untuk memperoleh pekerjaan melalui cara membangun hubungan strategis berupa wawancara informasional.

"Bahkan dalam sebuah kesempatan, Anda bisa melakukan wawancara informasional," ujar Mistal.

Ia menyarankan, untuk melakukan wawancara informasional, bangun koneksi melalui jejaring sosial profesional LinkedIn yang bekerja di perusahaan yang Anda tuju. Jangan sungkan berkomunikasi dan jika beruntung, buatlah janji untuk bertemu.

"Ketika sudah dapat ritmenya, Anda bisa menjalankannya. Perkenalkan diri, tanyakan pertanyaan terkait pekerjaan, dan ini bisa dilakukan dalam 15 menit," ungkap Mistal.

2. Tunjukkan soft skill

Banyak pelamar tanpa pengalaman kerja susah payah "mempromosikan diri" melalui riwayat diri atau curriculum vitae (CV) mereka. Menunjukkan soft skill Anda dapat membuat Anda selangkah di depan menuju perekrutan.

Penting untuk memiliki soft skill. Soft skill dapat ditunjukkan melalui pengalaman memimpin dalam berorganisasi, kerja paruh waktu, atau pengalaman membantu teman dalam membangun kehadiran bisnis mereka melalui media sosial. Pengalaman-pengalaman itu bisa menjadi bekal.

Menurut platform lowongan kerja Monster, soft skill yang paling banyak ditunjukkan dalam bursa kerja di berbagai industri adalah pemecahan masalah, perhatian kepada hal-hal detail, dan kemampuan komunikasi, baik lisan maupun tertulis.

3. Datang ke pameran kerja

Banyak universitas di Indonesia, pun menyelenggarakan pameran kerja untuk para mahasiswa dan alumni.

Meskipun kadang mencari kerja melalui ajang ini cukup menantang, tetapi pameran kerja adalah kesempatan besar bagi calon pegawai untuk berhubungan dengan perusahaan.

Perusahaan besar seperti Amazon pun mengandalkan pameran kerja untuk merekrut pegawai.

Namun, jangan hanya mendaftarkan diri atau menaruh CV pada perusahaan yang berpartisipasi dalam pameran kerja.

Jangan sungkan untuk menghubungi perusahaan untuk follow up lamaran yang telah dikirim.

Dalam waktu 24 jam, hubungi perusahaan melalui e-mail, sertakan CV, dan surat lamaran. Tekankan minat pada posisi pekerjaan yang dibidik.

BSM Buka Magang dan Mendapat Uang Saku

Dream.com – Jakarta – Komitmen PT Bank Syariah Mandiri (BSM) adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) perbankan syariah. Anak usaha PT Bank Mandiri Tbk ini membuat program magang (internship) untuk mencari SDM baru yang unggul di bidang syariah lewat progrm Kriya.

Lewat kegiatan magang diharapkan muncul calon SDM yang nantinya siap bekerja di industri keuangan syariah. Selama ini industri keuangan syariah memang kerap mengeluhkan minimnya pasokan SDM yang ahli di bidang perbankan syariah.

Direktur Risk Management and Compliance BSM, Putu Rahwidhiyasa, menjelaskan, program Kriya memberikan kesempatan kepada lulusan SMA atau diploma untuk mengenal dunia kerja dan memperoleh keterampilan sehingga dapat menjadi calon tenaga kerja yang terampil dan siap di dunia kerja.

“ Kriya adalah bentuk dukungan dan kepedulian perusahaan terhadap program link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja sekaligus implementasi program pendidikan vokasi yang dicanangkan Pemerintah atas kebutuhan SDM industri nasional,” kata Putu di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis 28 September 2017.

Program Kriya telah dimulai sejak Maret 2016 dan sudah diikuti 240 peserta sampai akhir Agustus 2017. Para peserta magang itu disaring dengan persyaratan memiliki IPK min 2,75, berusia 18-22 tahun, aktif di organisasi, mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki motivasi untuk belajar bekerja.

Dalam jangka waktu magang maksimal selama 1 tahun, setiap peserta Kriya akan mendapatkan uang saku sesuai ketentuan yang berlaku dan sertifikat.

“ Selain itu, kami juga melakukan penilaian terhadap peserta Kriya terbaik yang akan direkomendasikan menjadi pegawai Mandiri Syariah,” kata dia.

Putu mengharapkan anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (Persero) ini bisa lebih banyak menyerap peserta magang.

“ (Dengan begitu, kami) dapat membantu mempersiapkan SDM yang kompeten guna memenuhi kebutuhan perbankan syariah sekaligus bentuk komitmen Mandiri Syariah terhadap konsep suistainable finance berdasar 3Ps (profit, people dan planet),” kata dia.

Baznas Siap Memberikan 1.250 Beasiswa

Kabar24.bisnis.com – Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) siap menyalurkan beasiswa untuk 1.250 mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta melalui program Beasiswa Cendikia Baznas dengan berbagai pembinaan untuk mendukung keberhasilan studinya.   

Direktur Baznas, Mohd Nasir Tajang, mengatakan pihaknya melalui berbagai program terus berupaya untuk berperan aktif dalam memajukan pendidikan di Tanah Air, diantaranya dengan membuka ases melalui Beasiswa Cindikia Baznas (BCB) tersebut.

“Kami berharap para penerima beasiswa ini dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan menjadi pemimpin yang berkakarter Islami,” katanya.

Menurutnya, Baznas tengah menyelenggarakan focus group discussion bertema Program Pembinaan Penerima BCB dengan tujuan untuk membuat modul pembinaan bagi penerima beasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan adanya modul tersebut, lanjutnya, mudah-mudahan para mahasiswa penerima beasiswa BCB memiliki standar pembinaan dan berkarakter unggul, baik dari segi keilmuan, kemandirian dan berakhlak Islami.

Dia menjelaskan Baznas bekerja sama dengan Kemenristekdikti, perguruan tinggi dan Baznas Provinsi untuk menyebarkan 1.250 beasiswa ke seluruh wilayah di Tanah Air melalui program unggulan BCB.

“BCB merupakan salah satu program unggulan bidang pendidikan Baznas, berupa pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang tergolong mustahik atau termasuk asnaf zakat di perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta,” ujarnya.

OJK: Butuh Hasil Riset Berkualitas untuk Keuangan Syariah

Republika.co.id – Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan menilai sangat penting peran akademisi untuk hasil riset yang berkualitas untuk menumbuhkan sektor keuangan syariah di tengah semakin ketatnya persaingan di industri jasa keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat menghadiri Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) XVI di Solo, Jawa Tengah, juga meminta dukungan yang lebih besar dari pemerintah untuk mengembangkan sektor keuangan syariah. "Untuk mengakselerasi pengembangan industri keuangan syariah kita tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan yang bersifat organik saja, kita butuh peran pemerintah yang lebih besar lagi," kata Wimboh dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta.

Untuk meminta dukungan kalangan akademisi dan pemerintah itu, OJK bekerja sama dengan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan Universitas Sebelas Maret menyelenggarakan FREKS XVI 12- 14 September 2017 hari ini bertempat di Kampus Universitas Sebelas Maret, Solo. Menurut Wimboh, industri keuangan syariah memiliki potensi yang besar untuk terus tumbuh dan berperan dalam perekonomian masyarakat luas.

"OJK akan selalu melakukan upaya untuk perbaikan literasi keuangan syariah yang disertai berbagai inisiatif keuangan inklusif serta mendorong inovasi produk yang lebih 'friendly'," ujarnya.

Sebagai rangkaian kegiatan FREKS XVI, OJK bekerja sama dengan Mahkamah Agung menyelenggarakan Bengkel Kerja Bimbingan Teknis Pengadilan Agama tentang Perbankan Syariah. Kegiatan itu untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan Pengadilan Agam adalam bidang ekonomi dan perbankan syariah.

Pertumbuhan sektor keuangan syariah hingga Juni 2017 yakni sektor perbankan syariah memiliki 13 bank umum syariah, 21 UUS dan 167 BPRS. Pertumbuhan rata-rata aset (year on year/yoy) telah mencapai rata-rata 25,02 persen dalam lima tahun terakhir. Dengan total aset sekitar Rp 387,87 triliun, industri perbankan syariah mengelola hampir 23,9 juta rekening dana masyarakat, melalui kurang lebih 2.600 kantor jaringan di seluruh Indonesia. Aset perbankan syariah tersebut mencapai 5,42 persen dari aset perbankan di Indonesia.

Untuk sektor pasar modal syariah, berdasarkan data per Juni 2017, jumlah saham yang termasuk daftar efek syariah (DES) mencapai 355 saham atau 59,65 persen dari seluruh saham yang listing di pasar modal. Adapun nilai "outstanding" dari total 65 sukuk korporasi (surat utang syariah) saat ini adalah Rp14,66 triliun atau 4,37 persen dari nilai outstanding seluruh sukuk dan obligasi korporasi. Selain itu, terdapat 151 Reksa Dana Syariah dengan total Nilai Aktiva Bersih mencapai Rp 18,91 triliun atau 26,83 persen dari total NAB Reksa Dana.

Sementara itu, pada sektor industri keuangan nonbank syariah terdapat 130 perusahaan yang menyelenggarakan usaha berdasarkan syariah, terdiri dari 58 perusahaan asuransi syariah atau reasuransi syariah, 66 lembaga pembiayaan syariah dan enam perusahaan penjaminan syariah. Dari 130 perusahaan itu, perusahaan yang menyelenggarakan usaha syariah secara penuh (full pledged) baru sebanyak 12 perusahaan asuransi, 26 lembaga pembiayaan syariah dan dua perusahaan penjaminan. Pada akhir Juni 2017, IKNB Syariah mengelola aset sebesar Rp 97,61 triliun, yang terdiri dari Rp 37,37 triliun dari sektor asuransi dan reasuransi syariah, Rp 59,40 triliun dari sektor pembiayaan syariah, dan Rp 831.78 miliar dari sektor penjaminan syariah.

1 2 3 6