Mempelajari Prinsip Investasi Reksadana

Personalfinance.kontan.co.id – Jakarta – Setiap orang memiliki tujuan keuangan di masa mendatang, mulai menabung di deposito, reksadana menjadi alat investasi yang lebih tepat untuk mewujudkan tujuan keuangan Anda.

Agar tujuan keuangan tercapai melalui investasi reksadana, Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menyarankan, sebaiknya Anda mempraktikkan lima prinsip investasi reksadana yang disingkat dengan SMART. SMART merupakan singkatan dari spesific, measurable, attainable, relevant, dan time bound.

Pertama, spesifik. Artinya, dalam berinvestasi reksadana, Anda harus menentukan tujuan spesifik. Dengan begitu, Anda tahu mengapa Anda berinvestasi dan mengetahui kapan saatnya untuk berhenti pada saat tujuan tersebut tercapai.

Tujuan keuangan yang spesifik, contohnya, mempersiapkan dana pensiun, sekolah anak, atau tujuan keuangan untuk membeli rumah atawa kendaraan, hingga tujuan membiayai perjalanan ibadah haji.

Kedua, terukur. Jika Anda sudah mengetahui tujuan keuangan yang spesifik, Anda bisa dengan mudah menentukan nilai yang dibutuhkan. Pandji Harsanto, perencana keuangan independen, memberi saran, tujuan keuangan harus diformulasikan dalam bentuk angka nominal.

Ambil contoh, tujuan keuangan Anda adalah menyiapkan dana pendidikan anak masuk sekolah dasar (SD). Anda harus tahu berapa nominal kebutuhan dana tersebut.

Taruh kata, biaya pendidikan masuk SD sebesar Rp 20 juta. Artinya, tujuan keuangan yang harus Anda capai sebanyak Rp 20 juta.

Ketiga dan keempat, dapat dicapai dan relevan. Prinsip ini untuk melihat, apakah tujuan keuangan yang ingin Anda capai cukup realistis dan relevan jika dilihat dari kondisi keuangan saat ini maupun hasil investasi yang berlaku sekarang.

Pandji menyarankan, sebaiknya Anda membikin beberapa skenario. Misalnya, tujuan keuangan membeli kendaraan.

Untuk skenario optimistis, Anda mungkin bisa mematok target Rp 500 juta. Sementara untuk skenario konservatif, bisa jadi dana yang ingin diperoleh Rp 250 juta.

Nah, skenario itu disesuaikan dengan kondisi keuangan saat ini. Misal, dengan penghasilan Rp 10 juta sebulan dan investasi sebesar 30% dari total penghasilan, mana tujuan keuangan yang mungkin Anda capai dan sesuai.

Kelima, jangka waktu. Seperti telah diulas sebelumnya, jangka waktu adalah komponen terpenting suatu tujuan keuangan. Selain menentukan jenis reksadana yang Anda pilih, jangka waktu juga berpotensi menyebabkan perubahan pada nilai tujuan keuangan karena adanya inflasi.

Jangka waktu juga akan menentukan nilai investasi yang harus Anda penuhi. Misalnya, Anda ingin menyiapkan dana kuliah anak 10 tahun lagi.

Untuk saat ini, biaya kuliah mencapai Rp 500 juta. Denga asumsi inflasi 10% per tahun, dana yang Anda butuhkan 10 tahun ke depan sebesar Rp 1,3 miliar.

Dengan asumsi return reksadana saham sebesar Rp 20% per tahun, maka investor harus berinvestasi Rp 3,8 juta per bulan selama 10 tahun agar tujuan keuangannya tercapai.

Jika jangka waktu tujuan keuangan 15 tahun, kebutuhan investasi berubah menjadi Rp 2,08 miliar dengan asumsi inflasi tetap 10%. Sedangkan kebutuhan investasi per bulan untuk mencapai target menjadi sebesar Rp 2,18 juta.

Silakan Anda membuat sendiri tujuan keuangan yang realistis. Agar lebih mudah, Anda bisa memanfaatkan kalkulator finansial yang bisa diakses melalui internet maupun aplikasi telepon pintar.

Jangan lupa, jika tujuan keuangan sudah Anda tetapkan dan reksadana pilihan sudah di genggaman, lakukan evaluasi secara berkala. Jika memang kinerja produk reksadana Anda tidak memuaskan, tidak ada salahnya, kok, untuk mempertimbangkan beralih ke produk reksadana yang lain.

Keistimewaan Wakaf Dalam Syariat Islam

Republika.co.id – Jakarta – Dalam kitab suci Alquran, perintah tentang shalat hampir selalu diiringi imbauan berzakat. Maknanya, ibadah personal mesti disusul dengan ibadah sosial seorang Muslim. Salah satu bentuknya adalah wakaf.

Secara kebahasaan, buku Fiqih Wakaf Kementerian Agama RI menjelaskan, waqafadalam bahasa Arab berarti `menahan' atau `diam di tempat'. Artinya, menurut Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, seseorang menghentikan hak miliknya atas suatu harta dan menahan diri dari penggunaannya dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah.

Karena itu, harta yang diwakafkan mesti barang yang tidak habis dipakai, baik harta bergerak umpamanya buku- buku maupun tidak bergerak semisal tanah. Kebanyakan ulama sepakat bahwa hukum wakaf adalah sunah.

Dasarnya di kitab suci dapat ditelusuri pada surah Ali Imran ayat 92, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan, apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Satu hal yang cukup istimewa dari wakaf adalah, pahala akan terus mengalir kepada pewakaf, bahkan setelah ia meninggal dunia. Itu selama pemanfaatan atas harta wakaf itu terus berlangsung.

Rasulullah SAW bersabda, Setiap amal perbuatan manusia akan terputus (pahalanya), kecuali tiga macam: sedekah jariah, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, dan ilmu yang bermanfaat.

Di ranah fikih, cukup beragam definisi tentang wakaf. Mazhab Hanafi, misalnya, mengartikan wakaf sebagai upaya menahan suatu benda yang menurut hukum tetap milik pewakaf (wakif) dengan pemanfaatannya demi kebajikan bersama.

Oleh karena itu, wakif boleh menarik kembali atau menjual benda tersebut.

Agak berbeda dengan definisi itu, mazhab Maliki menilai, akad wakaf mesti mencegah pewakaf dari tindakan-tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas benda yang diwakafkannya itu kepada yang lain. Pewakaf juga tidak boleh menarik kembali wakafnya dalam masa tertentu yang sesuai akad. Karena itu, mazhab Maliki melarang wakaf berlaku kekal.

Adapun mazhab Syafii dan Hambali tentang ini hampir sama. Imam Syafii mendefinisikan wakaf sebagai tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus milik Allah, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada kebajikan sosial. Bagi dua mazhab tersebut, wakaf berarti melepaskan harta yang diwakafkan dari pewakaf setelah sempurna akad.

Dengan demikian, pewakaf tidak dapat melakukan apa-apa terhadap harta tersebut. Pewakaf juga tidak dapat melarang penyaluran sumbangan kemanfaatan harta itu. Bila pewakaf meninggal dunia, harta tersebut tidak dapat jatuh ke ahli warisnya.

Sejarah Asal Mula Kebijakan Wakaf

Republika.co.id – Jakarta – Jalannya praktik wakaf juga berkaitan dengan politik kenegaraan. Misalnya, ketika Raja Shalih bin al-Nasir mewakafkan hartanya untuk sarana di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi.

Termasuk di antaranya biaya pergantian kain kiswah yang menyelimuti Ka'bah dan kain penutup kuburan Nabi Muhammad SAW serta mimbar Masjid Nabawi setiap tahun. Di masa Mamluk pula undang-undang wakaf mulai dis- ahkan. Dengan begitu, wakaf telah menjadi penyangga ekonomi umat yang cukup penting.

Legalisasi melalui undang-undang itu sudah berlaku sejak masa Raja adz-Dzahir Bibers al-Bandaq (1260-1277). Undang-undang ini juga mengakomodasi empat mazhab fikih. Secara umum, pemerin- tahan al-Bandaq memasukkan wakaf ke dalam tiga kategori. Per- tama, hasil wakaf yang merupakan harta negara yang pemanfaatannya teruntuk bagi orang-orang yang di- anggap berjasa kepada negara.

Kedua, wakaf untuk meningkatkan fasilitas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ketiga, wakaf untuk kepentingan publik pada umumnya. Efektivitas undang- undang wakaf juga terjadi di masa Kesultanan Turki Utsmani. Pada 1280, undang-undang wakaf disem- purnakan sehingga mengatur soal pencatatan wakaf, sertifikasi pen- gelola wakaf, dan tata laksana pen- gelolaan wakaf. Tujuh tahun kemudian, terbit undang-undang yang menegaskan status tanah ne- gara dan tanah produktif wakaf di Turki.

Menurut Ensiklopedi Islam, sepanjang sejarah Islam ada dua jenis wakaf yang berlaku. Pertama, wakaf ahliy, yakni peruntukkannya bagi perorangan. Misalnya, seorang santri mewakafkan sebidang tanah kepada gurunya. Namun, ketika ke- mudian tidak satu pun anak-anak gurunya itu yang menjadi guru atau kiai maka harta wakaf tersebut menjadi sebatas warisan.

Pelaksanaan wakaf jenis ini tidak jarang masih dijumpai di Tanah Air. Namun, beberapa negara semisal Suriah atau Mesir mulai mengimbau rakyatnya agar tidak melakukan wakaf jenis ini. Adapun jenis kedua, wakaf khairi, sejak akadnya bertujuan demi kemasla- hatan umum, bukan perorangan.

Misalnya, wakaf tanah untuk pem- bangunan masjid. Masjid Nabawi merupakan satu contoh bagaimana wakaf dapat menghidupkan masyarakat madani.

Bahkan, kebermanfaatannya langgeng ribuan tahun lamanya sampai kini. Pembangunan Masjid Nabawi dimulai pada bulan Rabiul Awal tahun pertama hijriyah atau September 622 Masehi.

Keberadaan Masjid Nabawi merupakan tonggak awal peneguhan negara Islam pertama. Rasulul- lah SAW bermaksud menjadikan masjid ini sebagai pusat peradaban baru yang didasarkan pada wahyu Ilahi. Untuk itu, semangat gotong royong menjadi tenaga pendorong.

Kisahnya bermula sejak Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ash-Shidiq tiba dari Mekkah di Yas- trib (Madinah). Betapa lega dan gembiranya masyarakat Muslim Madinah menyambut pemimpin mereka itu sehabis melakukan per- jalanan hijrah yang sangat berba- haya. Begitu sampai, berbondong-bondong warga Madinah menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat tinggal Rasulullah SAW.

 

Perbedaan Wakaf dan Zakat

Khazanah.republika.co.id – Jakarta – Wakaf dan zakat adalah dua instrumen ekonomi umat yang diwariskan syariat Islam. Zakat dan wakaf selalu meninggalkan jejak. Peradaban Islam pasti meninggal kan jejak zakat dan wakaf. Situs peradab an yang masih ada atau rusak selalu ada jejaknya. Jadi, membicarakan peradab an pasti mengupas perkembangan zakat dan wakaf.

Dimanfaatkan untuk apa saja?

Wakaf untuk kepentingan umum. Sangat luas. Yang sangat disayangkan adalah zakat dan wakaf kini bukan menjadi instrumen kita. Padahal, keduanya berperan sangat besar bagi syiar dan perkembangan peradaban. Universitas al-Azhar Kairo Mesir terus berkembang sejak seribu tahun lalu karena wakaf.

Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo Jawa Timur juga berkembang dari wakaf. Trimurti pendiri Gontor mewakafkan tanah warisan orang tuanya untuk pendidikan. Aset wakaf dikelola secara pro fesional dengan sistem yang terus dipegang teguh, seperti kaderisasi sehingga aset wakaf terus dikembangkan untuk kepentingan umat.

Contoh lain adalah Muhammadiyah, memiliki sekitar 180 perguruan tinggi, ri buan sekolah, dan banyak rumah sakit, ter sebar di seluruh Indonesia. Semuanya ada lah aset wakaf. Kalau kita bicara Nah dla tul Ulama, ada 28 ribu pesantren. Apa kah kiai nya kaya sehingga mem bangun pesan tren sebanyak itu sendirian? Tidak. Di sana ada wakaf umat yang sedikit demi sedikit di manfaatkan untuk pembangunan pesantren.

Pewakaf bertambah dan mendukung perkembangan pesantren sehingga kapasitas dan pengaruh pesantren semakin berkem bang. Masih ada banyak lagi contoh institusi yang berkembang dari wakaf. Ini jejak peradaban. Karena itu, saya katakan zakat dan wakaf adalah instrumen ekonomi umat. Sayangnya, pemikiran tentang zakat dan wakaf ini hilang.

Bagaimana bisa hilang?

Karena, berganti dengan ekonomi kapitalis. Jadi, seolah-olah, kalau mau membangun sekolah, harus ada uang. Sejak kapan kita harus seperti itu? Kalau mau ber bisnis, harus ada uang dulu. Ini kapitalistik. Al-Azhar Kairo berkembang dari wakaf produktif. Ada perusahaan yang dibangun dari wakaf. Ada juga orang mewakafkan pertanian, yang sebagian keuntungannya dimanfaatkan untuk pengelolaan al-Azhar.

Gontor juga begitu. Ada unit usaha yang dimanfaatkan untuk mendukung berdirinya Pondok. Strategi seperti ini harus dihidupkan lagi apabila umat mau bangkit.

Beda zakat dan wakaf?

Zakat dan wakaf itu unik. Zakat wajib. Orang pasti melaksanakannya karena takut dosa. Sama seperti shalat, orang pasti akan melaksanakannya karena sudah diwajibkan. Orang kaya yang agamis sudah pasti membayar zakat. Tinggal kita siapkan program untuk lapak penampungan zakat mereka.

Sedangkan, wakaf adalah sunah muaka dah. Orang kalau tidak berwakaf tidak berdosa, hanya tidak mendapatkan kemuliaan, seperti yang dijanjikan Rasulullah. Saya selalu mengiyaskan begini, kita tidak perlu menyuruh orang shalat lima waktu. Orang sudah pasti melaksanakan itu selama meyakini agama karena takut akan ancaman Allah. Tapi, beda dengan shalat duha dan tahajud. Kalau diarahkan untuk melaksanakan dua shalat itu belum tentu mau karena tidak wajib. Tidak berdosa untuk meninggalkannya. Wakaf juga begitu. Orang bisa saja meninggalkannya karena tidak diwajibkan.

Dari sisi potensi, mari kita hitung bersa ma. Misalnya, ada orang memiliki uang Rp 1 miliar. Dia sudah pasti wajib membayar zakat 2,5 persen sekitar Rp 25 juta. Tujuannya, untuk menyucikan harta. Zakat pertanian 10 persen berarti Rp 100 juta. Ambil zakatnya. Selesai sudah.

Orang itu masih memiliki potensi Rp 900 juta lagi. Apakah zakat lagi? Tidak. Ini bisa disalurkan melalui wakaf. Ibadah satu ini adalah bagian dari sedekah yang kurang familiar di kalangan masyarakat kita. Sudah banyak orang yang mengam panyekan sedekah. Tapi, wakaf belum banyak yang mendakwahkannya. Ini ruang kosong. Ajaran wakaf ada, tapi belum banyak orang masuk di ruang tersebut.

Selama ini umat Islam hanya fokus pada zakat. Coba lihat kebanyakan masjid, apa ada panitia wakaf? Tidak ada. yang dibuka hanya lapak zakat. Itu pun hanya sekali dalam setahun dan hanya zakat fitrah. Setelah Ramadhan selesai, panitia zakat tak lagi bekerja. Padahal, zakat bukan hanya fitrah. Ada zakat harta yang ditunaikan sepanjang tahun. di luar Ramadhan ada orang baru menjual tanah atau ada yang baru dapat gusuran tanah untuk pembangunan jalan tol, misalnya.

Hartanya mencapai nisab sehingga harus bayar zakat, tapi panitia zakat di masjid sudah tu tup. Bagaimana mereka akan membayar zakat. Seharusnya panitia zakat terus bekerja. Pasang papan pengumuman bahwa masjid ini menerima zakat. Orang akan berdatangan untuk membayar zakat.

Pemaksimalan potensi wakaf ?

Wakaf harus diurus oleh panitia khusus. Potensinya jauh lebih besar. Yang disa yangkan saat ini umat Islam selalu mencari uang recehan. Misalnya, ada sepuluh orang yang masing-masing mempunyai har ta Rp 1 miliar. Kalau hanya zakat, per orang akan membayar zakat Rp 25 juta dikalikan sepuluh menjadi Rp 250 juta. Masih ada Rp 9,75 miliar belum terse rap. Sayang sekali.

Kata kuncinya dua, amanah dan citacita. Ada orang amanah, tapi tidak punya cita-cita, tidak bisa. Ada juga orang punya cita-cita, tapi tidak amanah. Aset wakaf dan zakat akan habis di tangan orang seperti itu. kita kasih Rp 100 miliar pun, orang tersebut tidak akan menjadikan aset wakaf bermanfaat.

Ada lagi orang yang amanah, tapi kelas berapa, sampai di mana dia amanah. A sedang membangun pesantren. Kemudian, datang seseorang mau mewakafkan uang Rp 100 juta. A bersyukur karena cita-cita un tuk membangun ruang kelas terwujud. Ke mudian, datang lagi pewakaf lain Rp 200 juta. Dia bersyukur lagi karena wakaf tadi bisa dimanfaatkan untuk membangun toilet.

Setelah itu, datanglah orang lain mau mewakafkan uang Rp 10 miliar. A bertanya-tanya, sepuluh juta pak? Bukan, melain kan sepuluh miliar. Sebentar dirapatkan dulu. Ketika sedang dirapatkan, orang yang mau mewakafkan tadi sudah pergi. Ini terjadi karena penerima wakaf tidak punya cita-cita yang panjang.

Kenapa orang mau berwakaf?

Ketahuilah, orang mau berwakaf karena yang ada di pikirannya adalah kema ti an, kuburan. Lha kalau yang ada di pikir an nya mo bil, orang itu tidak akan mewa kaf kan har tanya. Dia pasti dengan cepat akan mendatangi showroom, transaksi beli mobil dan langsung membawa pulang mobil baru.

Arti Amanah?

Amanah itu jujur, bertanggung jawab, dan bisa melaksanakan. Kalau tidak bisa melaksanakan, ya tidak amanah. Kita sebagai penerima wakaf harus punya citaci ta. Terima wakaf yang diberikan. Ucapkan terima kasih. Kemudian, sampaikan untuk menunggu. Setahun kemudian undang mereka untuk menghadiri peresmian hasil wakaf.

 

Lima Manfaat Menggunakan Asuransi Syariah

Viva.co.id – Bagi seorang Muslim, produk yang paling baik untuk dikonsumsi, tentunya yang sesuai dengan kaidah agama. Hal ini, juga berlaku untuk produk keuangan. Dengan adanya label halal, atau syariah, perasaan umat Muslim akan lebih tenang dan nyaman.

Jika dipahami dengan baik, asuransi syariah juga menguntungkan secara finansial. Berikut ini, lima keuntungan menggunakan asuransi syariah :

1. Transparansi dana

Asuransi syariah, tentunya beroperasi sesuai dengan nilai-nilai Islam yang salah satunya adalah transparan. Untuk itu, perusahaan asuransi yang mengelola premi nasabah pun menerapkan transparansi.

Setiap keuntungan yang diperoleh, nantinya akan disampaikan secara terbuka dan dibagi rata untuk seluruh pemegang polis asuransi.

2. Kesepakatan syariah yang menguntungkan

Asuransi syariah menggunakan prinsip takaful yang adalah sebuah bentuk tanggung jawab antara peserta yang digunakan untuk kegiatan tolong-menolong, bila salah satu peserta mengalami musibah.

Ada juga konsep Al-Mudharabah dalam kontrak yang merupakan bentuk akad kerja sama antara perusahaan asuransi dan nasabah. Perusahaan yang menawarkan produk asuransi syariah berposisi sebagai pengelola dana yang dikumpulkan dari nasabah.

Dana yang dikelola nantinya akan dimanfaatkan sebagai modal usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Sehingga, dana tersebut tak bisa dialokasikan untuk kegiatan atau bisnis yang tidak sesuai dengan prinsip Islam.

3. Saling berbagi dalam rezeki

Ketika Anda memilih melindungi diri dengan asuransi syariah, maka keuntungan yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada para peserta yang membayar polis

4. Tunaikan ibadah wajib zakat

Selain mengurangi risiko finansial, peserta juga bisa melakukan amal. Hampir seluruh perusahaan asuransi yang menawarkan produk syariah akan mewajibkan pesertanya untuk membayar zakat.

5. Tetap memiliki klaim dan layanan

Keuntungan berikutnya adalah, peserta yang tergabung dengan asuransi ini juga dapat memanfaatkan klaim dan layanan untuk kesehatan hingga asuransi jiwa. Prinsipnya pun terlihat sama dengan asuransi konvensional.

Nasabah asuransi dapat memaksimalkan perlindungan dengan sistem penggunaan kartu untuk biaya rawat inap bagi semua anggota keluarga. Bahkan, asuransi ini juga memungkinkan peserta untuk memilih double claim, ketika peserta sudah mendapatkan klaim dari produk asuransi yang lain, atau berbeda.

1 2 3 4 12