Kehutanan pun Masuk Lingkup Syariah tidak hanya Perbankan

Republika.co.id – Istambul – The 3rd International Conference on Islamic Perspective of Accounting, Finance, Economics and Management (IPAFEM) diadakan untuk ketiga kalinya. Pada saat ini Istanbul, kota turis di Turki, terpilih sebagai tuan rumah. Konferensi yang telah terlaksana pada Kamis-Jumat (23-24/11) diselenggarakan langsung atas kerja sama University of Glasgow dan University of Hasan Kalyouncu. Acara berlangsung di Yilzid Technical University.

Acara ini diselenggarakan dalam bentuk beberapa tema dalam presentasi yang disusun oleh Dr Hilmi Erdogan Yayla, Dr Murniati Mukhlisin, Prof Ros Hannifa, dan Dr Mohammad Hudaib. Banyak diskusi menarik yang dipandu oleh moderator. Terlihat antusiasisme peserta ketika membentangkan penelitiannya dan mengajukan pertanyaan.

Konferensi dihadiri oleh peserta yang berasal dari perbagai macam negara. Di antaranya Turki, Tunisia, Kashmir, Kuwait, Bangladesh, Qatar, Malaysia juga Indonesia. Indonesia sendiri diwakili oleh beberapa universitas Di antaranya ada STEI Tazkia dengan delegasinya Kholifah Mohammad Khusairi dengan riset berjudul "Establishing Maslahah Based Performance Model for Forestry Investment", Nashr Akbar dengan judul "Exploring Problems and Strategies to Improve Halal Tourism in Lombok, Nusa Tenggara Barat", dan Yaser Syamlan dengan topik "Irregular deposit, IFSB, and the investment account for the future of Indonesian Islamic Bank.”

Hadir juga Ries Wulandari dengan penelitiannya yang berjudul "Do Islamic Microfinance Practice Decrease the Level of Three Aspecs of proverty?", dilanjut dengan presentasi oleh Happy Febriana Hariani dengan tema "Halal Purchase Intention on Processed Food.”

Adapun peserta dari Indonesia lainnya adalah dari delegasi UIN Raden Fatah Palembang dengan papernya "The Influence of Organization Culture Toward Financial Reporting Quality and Its Impact on Good Governance.”

Masih banyak delegasi dari negara lain yang juga ikut menjadi topik menarik. Di antaranya "User of Corporate Reporting of Information oleh Ousama Anam dari Qatar University. "Outline of Islamic Economic Order" dipresentasikan oleh Mohammad Farooq Rather dari Jammu dan Kashmir Bank. Dan yang menariknya adalah paper terbaik diraih dari Indonesia yaitu delegasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan papernya yang bertajuk “Governance of Profit and Loss Sharing Financing of Achiving Socio Economic Justice.”

Semua peneliti dan praktisi yang hadir menyampaikan masukan dan kritik yang membangun yang dapat menjadi sumbangsih pekembangan industri syariah di dunia khususnya perkembangan perbankan syariah di negara masing-masing. Delegasi dari STEI Tazkia, Kholifah, dalam kesempatan itu menyampaikan tentang maslahah berbasis investasi kehutanan.

Hal ini, kata Kholifah, menunjukkan bahwa lingkup syariah tidak hanya pada sektor perbankan saja, tetapi menarik untuk diimplem entasikan pada sektor riil khususnya sektor kehutanan. "Dimana kita semua tahu bahwa hutan dunia sudah menurun dari segi pemanfaatannya," ujar dia dalam keterangannya kepada Republika.co.id, kemarin.

Menurut Kholifah, dengan investasi kehutanan, mampu mencerminkan sebagai investasi yang maslahah dari kaca mata Islam karena membawa manfaat buat bersama. Manfaat tidak hanya di dapatkan oleh Investor dan operator investasi tapi juga didapatkan manfaatnya buat para pemangku kepentingan, penduduk sekitar hutan, juga terpenting manfaat buat ummat dan keberlangsungan hidup alam semesta.

"Karena investasi hutan ini menghasilkan ribuan oksigen yang bisa dihirup oleh jutaaan manusia dan bisa menyelamatkan hutan dari kepunahan baik akibat dari siklus alam atau karena kecerobohan manusia," ujarnya.

Asuransi dan Investasi Dua Hal yang Berbeda

Kontan.co.id – Pengalaman adalah guru terbaik. Itulah yang Ari Wibowo rasakan dalam berinvestasi.

Tujuh tahun silam, Ari Wibowo membeli produk unitlink dari salah satu perusahaan asuransi ternama. Lantas setelah lima tahun, ia mengecek portofolio investasi yang ada pada produk itu.

Dalam benaknya, uang yang dia tanamkan sudah beranak-pinak. Tapi, betapa terkejut pria kelahiran Berlin, Jerman, ini begitu tahu uangnya tidak berkembang sesuai harapan.

Dalam lima tahun, dana milik Ari di unitlink tersebut hanya bertambah 7,5%. “Saya tak mau bilang saya ditipu. Ternyata, angka-angka yang dulu dijanjikan oleh sang agen asuransi semata-mata asumsi,” ujarnya.

Sejak saat itu, Ari mendapat pengalaman: produk asuransi dan investasi tak bisa disatukan. Lelaki 46 tahun ini pun langsung memperkaya pengetahuan dari berbagai sumber.

Kemudian, ia memutuskan membeli produk asuransi murni tanpa embel-embel investasi. Demikian sebaliknya.

Membiakkan duit di keranjang unitlink yang Ari anggap sebagai sebuah kegagalan membuatnya cenderung konservatif dalam berinvestasi.

Maklum, adik aktris Ira Wibowo ini merupakan pencari nafkah tunggal di keluarganya. Selain itu, dia punya kewajiban menggaji karyawan yang bekerja di beberapa bisnis yang dilakoninya.

Setelah menarik semua dana di produk unitlink, Ari lalu menaruh sebagian besar uangnya di deposito. Ia juga berinvestasi pada instrumen logam emas dan properti. Dia pun bermain saham melalui broker.

Beda konsep

Memang, bukan cuma Ari, banyak yang tertarik memiliki unitlink lantaran manfaat combo yang ditawarkan bahkan dijanjikan. Tapi, Freddy Pieloor, perencana keuangan independen, menegaskan, konsep asuransi dan investasi beda.

Produk asuransi memberi jaminan proteksi, sementara instrumen investasi bertujuan mengembangkan dana. “Konsepnya saja berbeda, jadi tak seharusnya disatukan,” ucapnya.

Pada produk unitlink, sebagian uang yang nasabah setor digunakan sebagai premi asuransi. Sebagian lagi untuk investasi.

Namun, dengan besaran uang setoran yang sama, unitlink tidak bisa memberi uang pertanggungan dengan nilai sebesar asuransi murni. Sebaliknya, unitlink juga tidak bisa memberi hasil investasi sebesar produk investasi murni.

Freddy menambahkan, uang yang mesti nasabah keluarkan untuk memiliki produk unitlink juga dua kali lipat lebih mahal dibanding membeli produk asuransi murni. “Banyak perusahaan asuransi jiwa mengenakan biaya administrasi bulanan yang lumayan besar ketika nasabah beli unitlink,” bebernya.

Instrumen investasi dalam produk unitlink kebanyakan merupakan reksadana yang dikelola manajer investasi (MI). Saat perusahaan asuransi memindahkan dana ke MI, ada biaya pengelolaan yang dibebankan peracik reksadana itu kepada nasabah unitlink.

Bukan cuma itu, perusahaan asuransi juga mengutip biaya manajemen ke nasabah.  “Nasabah dibebankan dua biaya manajemen,” ungkap Freddy.

Kala menambah dana investasi, nasabah bakal dikenakan biaya berkisar 5% dari nilai tersebut. Biaya yang tinggi ini membuat dana investasi tidak bisa tumbuh maksimal.

Menurut Freddy, imbal hasil produk unitlink juga tidak optimal karena dana nasabah dipakai untuk biaya komisi agen sebesar 30%–40%, jalan-jalan agen ke luar negeri, serta untuk atasan dan kantor agen.

Dalam dua tahun pertama, dana yang ditempatkan di produk unitlink tidak bertumbuh sama sekali. Bahkan dalam lima tahun, ada potensi dana nasabah tergerus hingga 25%.

Nah, bila terlanjur membeli unitlink, Freddy menyarankan, untuk produk yang berusia setahun sampai tiga tahun, sebaiknya nasabah menarik semua dana alias menutup produk asuransi berbalut investasi tersebut. Sebab, biaya akuisisi atau top up masih besar. Padahal, dana nasabah belum berkembang sama sekali.

Tapi, jika dana di produk unitlink sudah mengendap selama lima tahun, Freddy menawarkan beberapa pilihan.

Pertama, diamkan saja dana Anda. Soalnya, setelah lima tahun, perusahaan asuransi biasanya membebaskan biaya akuisisi unitlink.

Lalu, hitung, apakah hasil pengembangan dana masih cukup membayar biaya proteksi asuransi. Kalau cukup, berarti Anda tak perlu menambah dana lagi. “Kalau tidak cukup, Anda harus tambah premi lagi, karena dana sudah tergerus,” ujar Freddy.

Hanya, bila premi yang dibutuhkan lebih besar dari hasil pengembangan, Anda perlu mempertimbangkan untuk menurunkan angka uang pertanggungan (UP). Memang, manfaat asuransinya berkurang tapi ini harus dilakukan agar hasil pembiakan dana tetap mencukupi untuk membayar premi.

Manfaat sampingan

Kedua, Anda bisa menarik semua dana dari produk unitlink. Selanjutnya, beli produk asuransi yang murni proteksi. Sisihkan juga dana untuk investasi sesuai tujuan keuangan yang ingin Anda capai.

Misalnya, Anda ingin menyiapkan biaya kuliah untuk anak. Kalau buah hati Anda baru akan kuliah paling cepat lima tahun mendatang, Freddy merekomendasikan saham. “Beli saham blue chip yang memiliki potensi besar untuk berkembang. Pilih sekuritas yang aman dan punya nama,” imbuh Freddy.

Sedang untuk dana pensiun, Anda bisa membiakkan dana di instrumen properti. Freddy mengatakan, harga properti cenderung terus menanjak, kecuali apartemen yang pernah stagnan bahkan turun harga.

Meski begitu, Anda tetap harus punya asuransi. Pasalnya, percuma bila dana untuk masa depan tercukupi, tapi tak ada jaminan ketika sakit atau meninggal dunia. “Asuransi dan investasi bak dua kaki yang kita miliki. Keduanya dibutuhkan untuk berjalan, tapi tentu tak bisa disatukan, kecuali Anda pocong,” tutur Freddy.

Untuk pencari nafkah tunggal, perlu asuransi jiwa berjenis term life. Yang paling perlu diperhitungkan untuk menentukan UP ialah, biaya hidup dan pendidikan anak sampai kuliah kelar. Sang istri juga perlu punya asuransi, walaupun dengan UP tak sebesar suami.

Cuma, Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, punya pendapat beda. Menurut dia, imbal hasil dari unitlink yang dimiliki Ari tergolong bagus.

Sebab, dana pokok tidak hilang. Sebagai nasabah asuransi, Ari juga masih memiliki tambahan perlindungan jiwa dan kesehatan.

Ketika bicara investasi, Eko bilang, masyarakat harus paham, unitlink bukanlah instrumen investasi murni. “Investasi merupakan manfaat sampingan dan proteksi merupakan manfaat utama,” tegasnya.

Nasabah memang harus mengevaluasi produk unitlink-nya dalam lima tahun. Pada tahun kelima, hampir semua premi masuk ke instrumen investasi. Dus, Eko menyebutkan, imbal hasil jadi optimal.

Selanjutnya, nasabah bisa mengambil imbal hasil selama lima tahun untuk dipindahkan ke instrumen investasi lain. Ambil contoh, properti atau reksadana saham. “Tapi, kalau dananya didiamkan pun tidak masalah,” kata Eko.

Bila dana ditarik semuanya, nasabah bisa membeli instrumen investasi lain. Tapi, nasabah bakal kehilangan manfaat perlindungan yang berguna ketika sakit bahkan meninggal. “Kalau uangnya digunakan untuk beli asuransi lagi, bisa jadi rugi karena premi tambah mahal lantaran usia yang sudah bertambah,” sebut Eko.

Pikir plus minusnya.

–  S.S. Kurniawan –

Tips Selamat dari Investasi Bodong

Investasi.kontan.co.id – Jakarta – Investasi bodong yang menjanjikan imbal hasil selangit masih banyak beredar. Perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menilai, ada tiga hal yang membuat banyak masyarakat tertipu investasi bodong yaitu :

1. Karakteristik masyarakat kita yang menyenangi hasil tinggi. “Itu sebabnya, kadang calon investor menjadi gelap mata begitu dijanjikan hasil besar dari sebuah investasi,” kata dia.

2. Kurang edukasi dari pemerintah sehingga membuat masyarakat tidak terbiasa mempelajari skema investasi yang ditawarkan.

3. Pengawasan yang belum berjalan baik dari pemerintah. “Biasanya, investasi abal-abal ini mengaku mengantongi izin dari regulator. Namun, biasanya izin yang didapat tidak sejalan dengan apa yang dikerjakan. Misalnya, mereka mendapat izin penjualan, tapi malah menghimpun dana masyarakat, regulator sendiri tak bisa berbuat banyak,” tambah Eko.

Agar tidak tertipu investasi bodong, Eko menyarankan investor untuk jeli melihat investasi yang ditawarkan. Jika imbal hasil yang dijanjikan angkanya lebih tinggi dari obligasi pemerintah, maka calon investor harus lebih waspada.

Setelah itu, cermati pula cara kerjanya dan bagaimana cara mereka memutar uang yang dihimpun dari calon investor. “Juga jangan lupa untuk melihat sisi legalitasnya,” ujar Eko.

Sementara bagi regulatornya sendiri, Eko menyarankan pada semua lembaga yang berwenang supaya meningkatkan lagi edukasi untuk masyarakat agar lebih melek investasi. “Itu yang terpenting,” tandasnya.

Yang teranyar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Satgas Waspada Investasi menyatakan ada enam perusahaan yang masuk daftar hitam karena menghimpun dana masyarakat secara ilegal. Keenam perusahaan itu adalah PT Compact Sejahtera Group, PT Inti Benua Indonesia, PT Inlife Indonesia, Koperasi Segitiga Bermuda, PT Cipta Multi Bisnis Group, dan PT Mi One Global Indonesia.

Membedakan Perbedaan Investasi Langsung pada Obligasi dan Reksa Dana Pendapatan Tetap

Ekonomi.kompas.com – Jakarta – Reksa Dana Pendapatan Tetap merupakan investasi berupa reksa dana yang kebijakan investasinya minimal 80 persen pada surat berharga dalam bentuk hutang atau obligasi. Sedangkan obligasi adalah surat pernyataan hutang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi yang berisi janji untuk membayar kembali pokok dan bunga pada tanggal jatuh tempo.

Salah satu produk pasar obligasi yang dikenal umum adalah ORI (Obligasi Ritel Indonesia) dan Sukuk Ritel (Obligasi ritel berbasis syariah) yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Selain pemerintah, obligasi juga banyak diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Perbedaan utama antara obligasi yang diterbitkan swasta dengan pemerintah adalah pada risiko gagal bayarnya.

Obligasi pemerintah hampir tidak akan gagal bayar sementara obligasi swasta memiliki potensi gagal bayar. Kemampuan penerbit obligasi dalam melakukan pembayaran hutang dinilai dalam bentuk rating yang dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat.

Fitur lain dari obligasi adalah adanya kupon atau bunga yang dibayarkan setiap periodenya. Umumnya obligasi pemerintah membagikan kupon setiap 6 bulan dan khusus untuk ORI dan Sukuk Ritel setiap bulan, sementara obligasi swasta membagikan kupon setiap 3 bulan.

Dalam rangka pemenuhan terhadap prinsip syariah, terdapat juga obligasi syariah yang dikenal dengan istilah Sukuk.

Ada 2 jenis sukuk, yaitu Sukuk Ijarah dengan sistem sewa yang memiliki imbal hasil tetap, dan Sukuk Mudharabah dengan sistem bagi hasil yang imbal hasilnya tidak tetap. Fitur ini mirip dengan sistem Kupon Tetap dan Kupon Variabel pada obligasi konvensional.

Obligasi biasanya dijual kepada umum di pasar perdana melalui penawaran umum (Initial Public Offering – IPO) kepada masyarakat luas. Meski demikian, investor juga dapat memperolehnya di pasar sekunder dengan membeli obligasi yang dimiliki oleh investor lainnya.

Sebagai investor, tentu kita bisa berinvestasi langsung pada obligasi ataupun secara tidak langsung melalui reksa dana pendapatan tetap. Berikut ini adalah perbedaan dari kedua cara tersebut :

1. Agen Penjual

Untuk bisa berinvestasi di obligasi baik di pasar perdana ataupun pasar sekunder, investor bisa melakukannya melalui bank dan perusahaan sekuritas yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

Untuk memperoleh reksa dana pendapatan tetap, investor bisa berinvestasi melalui manajer investasi atau agen penjual seperti bank dan perusahaan sekuritas yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

2. Minimum Pembukaan Rekening

Minimum nilai rekening untuk transaksi obligasi bervariasi antar agen penjual dan jenis produknya. Untuk ORI dan Sukuk Ritel, umumnya minimum nilai rekening dari Rp 5.000.000 sesuai pecahan obligasi.

Namun untuk obligasi pemerintah dan swasta lainnya, bisa dimulai dari Rp 1.000.000.000 dan umumnya hanya tersedia untuk nasabah prioritas.

Minimum investasi reksa dana pendapatan adalah secara umum adalah Rp 100.000. Terdapat juga beberapa reksa dana pendapatan tetap yang menetapkan Rp 10.000 sebagai minimum investasi namun masih bisa dihitung dengan jari.

3. Perolehan Kupon

Dengan berinvestasi pada obligasi langsung, begitu ada pembayaran kupon, akan diteruskan kepada pemegang obligasi.

Hal ini agak berbeda kebanyakan reksa dana pendapatan tetap yang memiliki kebijakan untuk mereinvestasikan kupon yang diperolehnya. Dengan adanya kebijakan reinvestasi tersebut, maka kupon yang diterima selanjutnya akan meningkatkan harga obligasi.

Meski demikian, ada juga reksa dana pendapatan tetap yang kebijakan investasinya meneruskan kupon yang diterima kepada investor. Biasanya kupon dikumpulkan dan dibagikan pada tanggal tertentu sesuai prospektus reksa dana.

4. Risiko Fluktuasi Harga

Karena dapat diperjualbelikan sewaktu-waktu, harga obligasi juga berfluktuasi naik turun dari waktu ke waktu.

Harga obligasi dinyatakan dalam persentase. Ketika harganya di atas 100 persen, disebut bahwa harga obligasi at Premium, ketika di bawah 100 persen, disebut at Discount dan ketika harganya sama dengan 100 persen, harganya disebut at Par.

Fluktuasi harga obligasi umumnya dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga Deposito dan risiko gagal bayar obligasi.

Dengan asumsi bahwa perusahaan penerbit obligasi mampu melunasi kewajibannya, maka harga obligasi baik sedang di atas 100 ataupun di bawah 100, ketika jatuh tempo akan kembali ke harga 100. Dengan kata lain, risiko fluktuasi harga di obligasi bisa diminimalkan dengan memegang obligasi hingga jatuh tempo.

Harga reksa dana pendapatan tetap dinyatakan dalam Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan (NAB per Up) dan dimulai dari angka 1.000.

Berbeda dengan investasi obligasi langsung dimana ketika sudah jatuh tempo maka masa investasinya berakhir, reksa dana pendapatan tetap dapat membeli obligasi yang baru sehingga tidak memiliki jatuh tempo.

Akibatnya harga reksa dana (NAB per Up) dapat naik turun mengikuti fluktuasi harga obligasi. Selain itu, keahlian manajer investasi dalam melakukan jual beli obligasi dan kebijakan pembagian dividen juga dapat turut mempengaruhi harga reksa dana.

Karena tidak memiliki jatuh tempo, harga reksa dana pendapatan tetap belum tentu kembali 1000 pada saat isi obligasinya jatuh tempo. Dengan kata lain, dalam investasi reksa dana pendapatan tetap mengandung risiko fluktuasi naik turunnya harga.

5. Kemudahan Jual Beli

Pasar sekunder obligasi relatif kurang likuid. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya dan waktu untuk menjual obligasi di pasar sekunder.

Hal ini berbeda dengan reksa dana pendapatan yang dapat diperjual belikan kapan saja karena manajer investasi wajib membayar ke investor pada saat ada instruksi pencairan (redemption) maksimal 7 hari kerja.

6. Risiko Gagal Bayar

Risiko utama dari investasi dari obligasi adalah ketika penerbit obligasi gagal memenuhi komitmennya untuk membayar kupon dan pokok pada waktu yang telah ditetapkan.

Ketika risiko gagal bayar terjadi, maka nilai obligasi dapat anjlok bahkan tidak ada harganya sama sekali. Apabila tidak dapat dijual pada pasar sekunder, investor obligasi harus menunggu eksekusi aset yang menjadi jaminan obligasi untuk mendapatkan kembali investasinya. Proses tersebut dapat memakan waktu yang cukup lama.

Risiko gagal bayar obligasi juga dapat terjadi di reksa dana. Perbedaannya, manajer investasi melakukan diversifikasi dengan maksimal investasi pada satu perusahaan swasta adalah 10 persen. Pengecualian apabila investasinya di obligasi pemerintah yang bisa mencapai 100 persen.

Dengan demikian, investor reksa dana baru akan kehilangan asetnya apabila 10 perusahaan swasta penerbit obligasi yang menjadi portofolio investasi bangkrut pada saat yang bersamaan.

7. Perpajakan

Sebagai investor, atas hasil kupon dan keuntungan selisih harga (capital gain) dari investasi obligasi dikenakan pajak final 15 persen. Sementara jika berinvestasi pada reksa dana bukan merupakan objek pajak.

Ketika reksa dana berinvestasi pada obligasi, atas kupon dan keuntungan selisih harga mendapat insentif pajak yaitu sebesar 5 persen hingga 2020 dan 10 persen untuk 2021 dan seterusnya.

Reksa dana pendapatan tetap dan obligasi adalah produk investasi yang cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif. Secara perencana keuangan, reksa dana pendapatan tetap juga cocok untuk tujuan investasi dengan jangka waktu 1-3 tahun.

Untuk anda yang membutuhkan produk investasi yang konservatif, mudah diperjualbelikan dan memungkinkan pembelian secara berkala dengan nominal mulai dari ratusan ribu, reksa dana pendapatan tetap lebih cocok dibandingkan obligasi.

Investasi obligasi umumnya dilakukan oleh investor institusi yang memiliki dana besar dan yakin dengan kualitas kredit suatu perusahaan.

Risiko utama dari reksa dana pendapatan tetap adalah fluktuasi harga sementara risiko utama dari obligasi adalah risiko gagal bayar. Dengan memahami risiko tersebut, kita akan lebih siap menjadi investor.

Masyarakat Asia Pasifik Masih Suka Memakai Uang Tunai

liputan6.com – Jakarta – Seharusnya seiring tumbuhnya kepemilikan ponsel pintar atau smartphone mendorong kenaikan pemakaian pembayaran digital di wilayah Asia Pasifik. Namun, pemakaian uang tunai juga masih mendominasi di kawasan Asia Pasifik.

Hal itu berdasarkan studi dari PayPal yang berjudul "Digital Payments: Thinking Beyond Transactions" menemukan 57 persen responden menyatakan memilih uang tunai untuk transaksi sehari-hari.

Sisanya sekitar 24 persen lebih suka menggunakan metode pembayaran tradisional lain, yakni transfer bank, internet banking, dan kartu kredit serta debit.

Hanya 12 persen yang menyatakan sering menggunakan dompet digital atau transaksi digital untuk pembayaran. Mereka juga lebih suka menggunakan ponsel pintar untuk transaksi.

Secara geografis, lebih dari 70 persen responden di India, Filipina, bahkan Indonesia mengatakan kalau lebih sering pakai uang tunai. Sementara di Hong Kong dan Singapura, termasuk pusat keuangan di kawasan Asia Pasifik, sekitar 44 persen dan 43 persen memilih memakai uang tunai.

Di Tiongkok, sebagian besar masyarakatnya menggunakan aplikasi untuk bertransaksi. Hanya 25 persen yang mengindikasikan menggunakan uang tunai untuk transaksi.

Laporan tersebut dilakukan dengan mensurvei 4.000 orang di Tiongkok, India, Hong Kong, Singapura, Thailand, dan Indonesia. Meski responden lebih memilih uang tunai, kesadaran metode pembayaran yang baru juga tinggi.

Setengah dari responden itu mengenal dompet digital. Sebanyak 23 persen responden mengatakan, kalau mereka tahu pembayaran menggunakan kartu kredit dan debit. Sementara 23 persen responden lainnya mengerti pembayaran lewat ponsel pintar.

"Ada banyak kesadaran akan dompet digital, namun penggunaan jauh lebih rendah. Ada celah yang besar," ujar Rohan Mahadevan, Wakil Presiden Direktur PayPal untuk Asia Pasifik, seperti dikutip dari laman CNBC.

1 2 3 12