Ketua GNPF-MUI Resmikan Koperasi Syariah 212 dan Channel 212

2136_Ketua-GNPF-MUI-Resmikan-Koperasi-Syariah-212-dan-Channel-212
NUSANTARA,  – Bachtiar Nasir selaku Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF–MUI) melakukan peresmian pada Koperasi Syariah 212. Tidak hanya itu saja, dalam kesempatan tersebut, ia juga meresmikan Channel 212 yang bakal digunakan untuk media informasi dan komunikasi umat Islam.
Dalam kesempatan itu, Bachtiar juga mengungkapkan jika peresmian Koperasi Syariah 212 dan Channel 212 bisa menjadi wadah untuk silaturahmi umat Islam. Ditambah lagi kehadiran Koperasi Syariah juga diharapkan menjadi sarana mewujudkn kekuatan umat Islam di bidang ekonomi.
“Kita resmikan dengan mengucap Bismillahi Allahu Akbar,” ujar Bachtiar di Alhambra Masjid Andalusia STEI Takzia pada Jumat (20/1/2017), dikutip dari republika.co.id.
Dalam peresmian itu, Bachtiar Nasir juga didampingi oleh Syafii Antonio selaku Ketua Koperasi Syariah 212, Ahmad Juwaini yang merupakan Bendahara Koperasi Syariah, serta Wakil Ketua GNPF – MUI, Ustaz Mishbahul Anam. Selain para petinggi tersebut, peresmian Koperasi Syariah 212 serta  Channel 212 juga dihadiri ribuan umat Islam yang hendak mendaftar menjadi anggota.
Koperasi Syariah yang baru saja diresmikan tersebut, diyakini menjadi awal kebangkitan ekonomi umat Islam. Sistem yang dikembangkan di dalam koperasi tersebut adalah syariah dan siapa saja boleh untuk berpartisipasi. Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Syafii Antonio selaku Ketuaanya.
“Semuanya bisa berpartisipasi di Koperasi Syariah 212. Tukang ojek, nelayan, buruh bisa berpartisipasi, cukup dengan menyetorkan dana Rp 100 ribu,” kata Syafii Antonio pada Jumat (20/1/2017) seperti yang dikutip di Jpnn.com.
Dia juga menyebutkan sebenarnya selama ini umat Islam memiliki daya beli yang besar, namun hal tersebut hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang pandai melihat pasar. Oleh karena hal itulah, sekarang ini sudah saatnya umat Islam mengubah sistem perbankan konvensional menjadi syariah.
“Untuk tahap awal,‎ Koperasi Syariah 212 menargetkan aset Rp 212 miliar di tahun pertama, tahun ketiga Rp 2,12 triliun, tahun ketujuh Rp 21,2 triliun, dan tahun kesepuluh Rp 212 triliun,” tambahnya lagi. (zar/jpnn/rol/*).

Empat Tantangan Asuransi Syariah

isustrategis

(Ki-Ka): Chief of Product Proposition and Shariah FWD Life Ade Bungsu, Dewan Pengawas Syariah FWD Agus Siswanto, Direktur IKNB Syariah OJK Moch Muchlasin, Ketua Umum AASI Taufik Marjuniadi.

 

 

Pada periode 2010-2014, industri keuangan non bank (IKNB) syariah mencatat rerata pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun. Namun, masih terdapat sejumlah isu strategis yang menjadi catatan bagi perkembangan industri asuransi syariah. Direktur Industri Keuangan Non Bank Syariah Otoritas Jasa Keuangan Moch Muchlasin memaparkan, setidaknya ada empat isu strategis di industri tersebut.

“Isu pertama adalah tingginya tingkat ketergantungan bisnis di antara IKNB dan sektor keuangan syariah lainnya. Kami mencatat sekira 60 persen distribusi asuransi syariah lewat perbankan syariah,” katanya dalam Media Workshop Menakar Prospek Asuransi Jiwa Syariah di Tengah Dinamika Ekonomi, Selasa (8/11).

Di sisi lain, pada penempatan investasi pun sekira 60 persen ditempatkan pada produk pasar modal syariah, sedangkan 38 persen diinvestasikan di produk perbankan syariah. Menurut dia, hal ini menandakan inovasi produk asuransi syariah masih kurang. “80 persen produk asuransi syariah adalah produk unitlink, selebihnya berupa asuransi pembiayaan,” ungkap Muchlasin.

Isu kedua di asuransi syariah adalah terkait penyebaran kantor cabang. Muchlasin mengutarakan, industri asuransi syariah tahun ini memiliki jaringan sekitar 1500 kantor cabang. “Yang menjadi masalah sebagian besar ada di Jawa sebanyak 824 unit, 338 unit di Sumatera, 126 unit di Kalimantan, Maluku dan Papua 25 kantor cabang dan sisanya sekitar 80-an cabang. Jadi kehadiran fisik outlet dan agen masih kurang. Lebih dari 50 persen ada di Jawa dan 22 persen di Sumatera, jadi 79 persen ada di wilayah barat Indonesia,” jelasnya.

Selain hal diatas, isu ketiga pada asuransi syariah adalah mengenai kesenjangan bisnis yang cukup besar antara pelaku industri. Ia mengungkapkan, di industri asuransi jiwa syariah ada empat dari 21 perusahaan yang menguasai pasar sebesar 80 persen, yaitu AXA Mandiri, Prudential, Manulife dan Allianz. Di asuransi umum syariah ada sembilan dari 29 perusahaan yang menguasai pasar. “Jadi kalau mereka bergejolak saja, itu langsung berdampak ke industri,” tukas Muchlasin.

Sementara, isu keempat di industri asuransi syariah adalah terkait literasi masyarakat mengenai asuransi syariah yang masih rendah. “Untuk asuransi pemahaman masyarakat hanya 6,9 persen. Dari sisi minat atau tidaknya ada 17,7 persen yang berminat, dan 22 persen untuk yang sudah punya produk asuransi,” pungkasnya.

Prudential Luncurkan PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund

asuransi

 

Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) telah meluncurkan dana investasi terbaru berbasis syariah, PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund (SAPF). SAPF berinvestasi secara langsung maupun tidak langsung pada saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam indeks berbasis syariah (sharia-compliant indexes) yang operasi utamanya berada di kawasan Asia Pasifik, tidak termasuk Jepang.

Sejalan dengan peluncuran dana investasi berbasis syariah baru tersebut, President Director Prudential Indonesia Jens Reisch mengatakan, melalui penempatan investasi jangka panjang, nasabah memiliki kesempatan untuk mendapatkan hasil investasi yang baik. “Seperti halnya dana investasi lain yang kami tawarkan, PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund secara profesional dikelola berdasarkan prinsip syariah oleh PT Eastspring Investments Indonesia (Eastspring Indonesia), yang merupakan bagian dari Grup Prudential,” paparnya, Selasa (15/11).

Chief Executive Officer Eastspring Indonesia Riki Frindos mengatakan, PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund membuka akses bagi para nasabah untuk berinvestasi di pasar global, terutama di Asia Pasifik. “Produk ini juga akan mengoptimalkan potensi dana investasi para nasabah,” ujarnya.

PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund adalah dana investasi terbaru yang merupakan bagian dari produk asuransi jiwa dasar terkait investasi PRUlink syariah assurance, produk asuransi jiwa syariah Prudential Indonesia yang didistribusikan melalui saluran tenaga pemasar. Jenis dana investasi baru ini, dengan komposisi 98 persen di ekuitas, memiliki tujuan untuk mencapai hasil maksimal dalam jangka panjang dan sesuai dengan minat para investor pada dana berbasis syariah yang terdapat di pasar Asia Pasifik.

PRUlink Syariah Rupiah Asia Pacific Equity Fund adalah jenis dana investasi berbasis syariah kelima yang diluncurkan oleh Prudential Indonesia sejak berdirinya unit usaha syariahnya pada 2007. Sejak 30 Juni 2016, unit usaha syariah Prudential Indonesia telah didukung oleh lebih dari 97.500 tenaga pemasar syariah berlisensi dengan total pendapatan premium sejumlah Rp 1,7 triliun.