Koperasi Syariah akan Lounching Berikan Kesempatan Usaha Bagi Anggota

2

minangkabaunews.com – Kepala Kantor Kementerian Agama Payakumbuh Drs.H. Asra Faber, M.M munculkan ide Koperasi berbasis syariah yang dimotori oleh para ustad dan penyuluh agama yang ada di Kota Payakumbuh. Menurutnya sesuai dengan kehidupan bersosial masyarakat Indonesia, Khususnya Kota Payakumbuh. Koperasi yang akan di bentuk itu bertujuan untuk mempertinggi kesejahteraan anggota dan masyarakat yang ikut bergabung menjadi anggota.

“Koperasi ini akan segera kita lounching dalam waktu dekat, berlandaskan syariah islam yaitu Al-quran dan assunnah dengan saling tolong menolong dan saling menguatkan. Sangat dibutuhkan kejujuran pada setiap anggota,” kata Asra pada Rabu (8/2) siang.

Asra menambahkan juga bahwa merupakan bagian dari prinsip ekonomi islam yang memegang teguh kinerja yang istiqomah. Koperasi berlandaskan syariah memiliki peran sesuai dengan prinsip agama islam, menjalankan perintah sesuai dengan amanah yang diterima, dan koperasi syariah juga berazazkan demokrasi ekonomi serta kekeluargaan.

“Setiap anggota wajib memegang teguh amanah, fathonah dan istiqomah. Salain itu kita juga akan memberikan kesempatan usaha bagi anggota. Kita berharap koperasi berkembang menjadi koperasi umat islam kota Payakumbuh,” tambahnya.

Saat ini sudah ada 80 orang anggota dari internal kantor kementerian agama kota Payakumbuh yang dipastikan ikut bergabung setelah koperasi terbentuk. Diawali dengan modal dasar sebesar 250 ribu yang diambil dari gaji masing-masing pejabat, pegawai Kamenag maupun penyuluh sehingga terkumpul modal awal lebih kurang sejumlah 20 juta rupiah.

Etika dan Norma Berutang Secara Syariah

2

Suara.com – Perekonomian syariah semakin berkembang dan banyak masyarakat yang ingin menjalankan ekonomi berdasarkan dengan prinsip syariah. Perbankan pun banyak yang mengeluarkan produk berbasis syariah untuk memberikan jaminan dan ketenangan bagi nasabah.

Dana tabungan yang disimpan dalam bank syariah memenuhi syarat-syarat syariah. Selain dari sisi simpanan, banyak masyarakat yang bertanya mengenai perkara utang dalam sudut pandang syariah.

Meminjam atau berhutang itu mubah (boleh) hukumnya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Akan tetapi, hukum tersebut bisa berubah seiring dengan faktor yang melatarbelakanginya. Berikut etika saat terlibat dalam utang-piutang menurut prinsip syariah:

1. Mencatat
Pihak yang berutang (nasabah) hendaknya mencatat atau membukukan nominal pinjaman mereka, sekecil apa pun jumlahnya. Walaupun telah diberi kepercayaan oleh peminjam, pembukuan tetap diperlukan agar utang tersebut tidak terlupakan.

Pencatatan juga diperlukan karena keterbatasan dalam mengingat. Sehingga meskipun sebenarnya tidak ada maksud buruk untuk melupakan utang yang dipinjam, namun terkadang utang bisa terlupa bila tidak dicatat. Pencatatan juga dilakukan agar tidak ada kesalahpahaman dan konflik di kemudian hari karena perbedaan nilai utang menurut peminjam dan yang meminjam

2. Berhutang saat mendesak
Pastikan sedang sangat terdesak ketika memutuskan untuk berutang. Utang pada dasarnya akan menambahkan beban hidup karena Anda harus melunasinya. Beban ini tentu akan membuat Anda tidak tenang dan gelisah bila terlalu banyak. Dengan cara ini, Anda juga terhindar dari memakai utang untuk hal yang tidak perlu

3. Menghindari utang berunsur riba
Hindarilah utang yang menetapkan riba karena menambah beban hidup dan menyulitkan peminjam utang

4. Bertekad segera melunasi
Ketika meminjam uang, maka sebaiknya segeralah bertekad sejak awal untuk segera melunasi utang saat mampu. Ini adalah salah satu etika yang harus tertanam dalam diri seorang muslim. Tentu harus membayar kepercayaan yang telah diberikan oleh peminjam dana dengan baik.

Prodi Ekonomi Islam FAI UIR Bahas Prospek Ekonomi Syariah dengan Menghadirkan Pemateri dari Tiga Negara

1

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Riau (UIR), menggelar seminar internasional dengan tema “Prospek Ekonomi Islam Pascaberlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Seminar ini digelar pada Senin (6/1) di aula gedung Pascasarjana UIR dengan menghadirkan empat pemateri dari tiga Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Pemateri yang hadir yakni, Dekan FAI UIR Dr. Zulkifli Rusby, Dr. Abdullah Rasyd Abdulah dari Narathiwat University Thailand, Prof. Dr. Abdullah Abdul Gani dari Universiti Utara Malaysia, dan Azizurrahman dari Kolej Yayasan Pahang-Malaysia. Seminar internasional ini dibuka langsung oleh Rektor UIR, Prof. Dr. Detri Karya, SE., MA.

Rektor UIR, Prof. Dr. Detri Karya pada kesempatan itu kepada Tribunpekanbaru.com menyebutkan, pertama ia mengapresiasikan yang dilakukan Prodi Ekonomi Islam yang telah melaksanakan seminar internasional. Rektor mengharapkan ke depannya banyak lagi prodi-prodi di UIR melaksanakan seminar internasional yang isu yang berbeda pula.

“Prospek Ekonomi Islam di Era MEA, adalah isu yang hangat. Sebab, negara-negara ASEAN dengan jumlah penduduk sekitar 500 juta jiwa dan sebahagian besar beragama Islam, pertumbuhan lembaga ekonomi Islam belum terlalu berkembang, bahkan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sekitar 60 persen masyarakat ASEAN adalah muslim, lalu kenapa ekonomi Islam tidak muncul?,” ungkap Rektor UIR.

Melihat di Indonesia, kata Detri, lembaga syariah baru tumbuh sekitar 5 persen. Melalui seminar ini, sangat diharapkan muncul ide-ide yang mampu mengembangkan ekonomi syariah di ASEAN. Melalui seminar seperti inilah diharapkan ekonomi syariah terus tumbuh dan berkembang di negara-negara ASEAN ini.

“Ekonomi Islam, sangat berbeda dengan ekonomi konvensional yang selama ini berkembang pesat. Dalam ekonomi Islam, bukan masalah ekonomi semata yang dibahas, tapi ada nilai lain, seperti nilai kerohanian yang ia bangun, masalah kejujuran, transfaran dan lain sebagainya yang tidak dijumpai pada sistem ekonomi konvensional. Mulai sekarang akan menjadi tugas berat bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah baik di Indonesia, negara-negara mayoritas muslim maupun di seluruh negara ASEAN ini,” jelas Detri.

Dekan Fakultas Agama Islam, Dr Zulkifli Rusby kepada Tribunpekanbaru.com menyebutkan, beberapa tahun belakangan ini, ekonomi diseluruh dunia dihantam oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dampak dari krisis tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat, sebagai akibat daripada penerapan sistem ekonomi yang kapitalis, dan sosialis.

“Kita berharap dengan sistem ekonomi syariah akan mampu menyelesaikan atau mencari solusi dari krisis ekonomi yang melanda seuruh dunia sekarang. Seminar internasional ini ditaja karena adanya kepedulian tentang pengembangan ekonomi berbasis Islam. Seminar ini juga ditaja karena kerja sama yang baik antara UIR, Yayasan Kolej Pahang Malaysia, Universiti Utara Malaysia dan Narathiwat University Thailand,” ungkap Zulkifli

Islamic Development Bank (IDB) Digandeng Arab Saudi untuk Mengatasi Kemiskinan

1

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Ali bin Nasser Al Ghafis selaku Menteri Tenaga Kerja Saudi Arabia beserta Presiden IDB Group sepakat untuk menjalin kemitraan yang bertujuan untuk mencapai program National Transformation 2020 dan rencana pembangunan Pemerintah Arab Saudi sampai tahun 2030. Bentuk kesepakatan kerjasama berupa memberikan dukungan kepada lembaga masyarakat, memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas, melaksanakan program pengentasan kemiskinan, memberikan dukungan kepada Awqaf, serta untuk mengaktifkan pembiayaan berkelanjutan dan memberdayakan dalam bidang nonprofit dengan mempromosikan kesehatan, pendidikan, perumahan, serta program sosial dan budaya.

Selain itu bentuk kesepakatan berupa pemberian pelatihan kepada pengusaha, menerapkan berbagai kebijakan dan prosedur untuk meningkatkan program kewirausahaan, dan studi kelayakan untuk investor swasta.
Keduanya pun telah membentuk tim teknis untuk menindaklanjuti skema-skema kerjasama yang telah disepakati tersebut. Dan mengharapkan tim teknis ini dapat segera merealisasikan bentuk kerjasama tersebut.

Prospek Keuangan Syariah di 2017 Makin Terbuka

keuangan-syariah-ilustrasi-_130118131611-135

 

JAKARTA – Prospek keuangan syariah 2017 di Indonesia terbuka menyusul dukungan pemerintah yang mengeluarkan sejumlah regulasi disamping terus gencarnya sosialisasi, demikian studi Center for Islamic Studies in Finance Economics, and Development (CISFED). “Saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengembangkan keuangan syariah di Indonesia, didukung pula oleh keberadaan Otoritas Jasa keuangan yang terus mensosialisasikan keuangan syariah,” kata Direktur Eksekutif Center for Islamic Studies in Finance Economics, and Development (CISFED) Intan Syah Ichsan seperti dikutip Antara, kemarin.

Menurutnya, sekalipun sistem keuangan syariah di Indonesia masih baru dan belum terlalu dikenal oleh kalangan masyarakat, namun dukungan pemerintah serta gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan, menjadikan sistem keuangan tersebut di tahun-tahun mendatang akan lebih terbuka dan prospektif.

Keuangan syariah di Indonesia mencatat pertumbuhan aset yang cenderung turun sejak 2011 di mana sumbangan terbesar berasal dari perbankan syariah, meskipun pada tahun 2015 justru terlihat asset keuangan syariah terbesar tidak lagi berasal dari perbankan syariah sebesar Rp296,3 triliun tapi justru berasal dari sukuk “outstanding” Rp303 triliun.

Pada 2016, katanya, perbankan syariah menembus target pangsa pasar lima persen yang dicapai dengan aksi kerjasama BPD Aceh berupa konvensi menjadi Bank Umum Syariah (BUS). “Gerakan literasi mengenai keuangan syariah juga sudah gencar dilakukan oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) yang menjadikan masyarakat menjadi memahami dan peduli terhadap sistem itu,” katanya.

CISFED, katanya, juga akan memainkan perannya terhadap perkembangan keuangan syariah serta mengambil posisi untuk menjembatani pelaku usaha dalam industri itu agar dapat bersinergi menciptakan iklim keuangan syariah yang sehat dan tumbuh pesat di Indonesia. Dia mengakui perkembangan industri keuangan syariah masih berkutat pada kenyataan tingkat literasi masyarakat yang rendah sehingga pemahamannya pun tidak banyak, sehingga perlu secara gencar upaya sosialisasi dan pemahaman daris emua pemangku kepentingan baik pemerintah maupun nonpemerintah.

Prinsip syariah yang mendasari kegiatan operasional pada industri itu sebenarnya telah menjadikan lembaga keuangan syariah mempunyai bentuk yang seharusnya berbeda dengan lembaga keuangan konvensional, sehingga dibutuhkan pendekatan berbeda untuk dapat menumbungkembangkan industri ini.

Ketua Dewan Pembina CISFED Farouk Abdullah Alwyni mengatakan pihaknya sudah dan akan menerbitkan jurnal mengenai kajian keuangan syariah yang akan disebarluaskan ke masyarakat dengan maksud ingin lebih mempopulerkan keuangan syariah. “Jurnal pertama hingga ketiga sudah kita terbitkan dan akan terbit jurnal keempat,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah dan akan melakukan diskusi kelompok terarah (FGD) dnegan pemangku kepentingan agar sistem keuangan itu bisa lebih tumbuh lagi di masa depan. CISFED adalah pusat kajian Islam di bidang keuangan, ekonomi dan pembangunan yang bertujuan menawarkan pemikiran alternatif yang dapat mengintegrasikan iman dan ilmu, khususnya ilmu sosial, dalam kerangka menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam di dunia modern.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menilai pada 2017 ekonomi syariah akan semakin membaik. Sehingga, otoritas telah menyiapkan berbagai program untuk mendorong lembaga keuangan syariah. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, pada 2015 dan 2016, lebih banyak tahun konsolidasi keuangan syariah. “Konsolidasi ini berhasil dengan baik sehingga kemudian bisa bangkit di 2017,” ujar Muliaman.

Untuk itu, OJK mendorong pembentukan unit atau lembaga keuangan syariah baru di industri pasar modal yaitu Unit Pengelolaan Investasi Syariah atau Manajer Investasi Syariah. Unit ini terpisah dari Manajer Investasi konvensional dan khusus mengelola produk-produk reksa dana syariah. Pada tahun ini juga, OJK akan mendorong berdirinya Jakarta International Islamic Financial Center (JI-IFC) yang merupakan pusat bisnis dan investasi syariah dalam bentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). “Berdirinya Jakarta International Islamic Financial Center (JI-IFC) ini merupakan langkah awal untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia,” katanya.

(rzy)

1 36 37 38