OJK Mengeluarkan Regulasi Pengendalian Fraud

Finansial.bisnis.com – Jakarta –  Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan aturan mengenai pengendalian fraud dan penerapan startegi anti fraud bagi perusahaan asuransi dan reasuransi.

Peraturan itu tertuang dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan atau SEOJK No.46/2017 tentang Pengendalian Fraud, Penerapan Fraud, Dan Laporan Strategi Anti Fraud bagi Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau Unit Syariah.

Aturan itu diterbitkan sebagai aturan turunan dari Peraturan OJK atau POJK No.69/2016 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi. Adapun, fraud yang dimaksud ialah tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu, atau memanipulasi sehingga pihak lain menderita kerugian, sedangkan pelaku fraud memperoleh keuntungan.

Beberapa poin penting mengenai anti fraud yang tertuang dalam SEOJK No.46/2017 antara lain ialah perusahaan asuransi diwajibkan melaksanakan pengendalian fraud yang meliputi aspek pengawasan aktif manajemen, organisasi dan pertanggungjawaban, pengendalian dan pemantauan, serta edukasi dan pelatihan.

Dalam rangka melaksanakan aspek pengendalian dan pemantauan fraud, perusahaan asuransi juga wajib menerapkan strategi anti fraud yang meliputi pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, sanksi, serta pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut.

Beleid itu juga menyebutkan bahwa setiap perusahaan asuransi diwajibkan menyampaikan laporan strategi anti fraud kepada OJK. Adapun, penyampaian laporan dapat dilakukan secara online melalui sistem jaringan komunikasi data, ataupun melalui alamat email yang telah ditetapkan OJK.

Ketentuan dalam SEOJK tersebut mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan yaitu 25 Agustus 2017. Seperti diketahui, peraturan tersebut telah resmi ditetapkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK Riswinandi pada 25 Agustus 2017 ini.

Asuransi Syariah Menerima Aturan Saham Asing Dibatasi

Industry.co.id – Jakarta – Asuransi Jiwa syariah tidak mempermasalahkan aturan kepemilikan asing dibatasi. Saat ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan membahas permasalahan tersebut.

"Saya intinya dana dari mana saja enggak masalah, yang penting membangun dulu dengan tujuan literasi, masa ada investor ditolak," kata Satrio Wicaksono Head of Syariah FWD Life Syariah di Jakarta.

Ia mengatakan adanya usaha join venture salah satunya ke induatri asuransi, sebenarnya dapat meningkatkan performa bisnis.

Sebagai pelaku industri asuransi syariah, dengan adanya upaya pembatasan kepemilikan saham asing di industry asuransi syariah.

"Enggak maslah ada pembatasan, sebagai warga negara punya sesuatu ke industri. Selama bisa beri sesuatu kita coba maksimal," katanya.

Pemerintah sudah menyiapkan rancangan peraturan pemerintah (RPP) untuk mengatur soal ini. Porsi 80% saham kepemilikan asing saat ini akan dilucuti sehingga akan berkurang di bawah itu.

 

Kontribusi Asuransi Syariah Sebesar 3,46 Persen

Republika.co.id – Jakarta – Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mencatat bahwa kontribusi bruto industri asuransi syariah per semester I 2017 tumbuh 3,46 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Nominal kontribusi sebesar Rp 6,16 triliun.

Ketua Umum AASI Ahmad Sya'roni menjelaskan, kenaikan ini jauh lebih kecil dibandingkan kenaikan premi bruto industri asuransi konvensional yang tumbuh sebesar 19,62 persen (yoy).  "Perbandingan ini harus menjadi pemicu bagi pelaku industri asuransi syariah untuk dapat meningkatkan pendapatan kontribusi bruto yang terlihat timpang dengan asuransi konvensional," ujar Sya'roni dalam konferensi pers rapat pengurus AASI, di Jakarta.

Kendati begitu, pertumbuhan aset asuransi konvensional tumbuh lebih kecil yaitu 14,43 persen. Sedangkan aset asuransi syariah naik 22,1 persen.

Pertumbuhan aset yang cukup besar ini dirasa cukup untuk menaikkan porsi asuransi syariah dari sebelumnya 6,09 persen pada Juni 2016 menjadi 6,50 persen pada Juni 2017.

Menurut Sya'roni, dalam sisa waktu empat bulan sampai dengan akhir tahun 2017, asosiasi optimisme industri asuransi syariah akan tetap tumbuh. Hal ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan Indonesia pada 2017 yang diproyeksikan berada di kisaran 5,1- 5,5 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu yang sebesar 5,02 persen.

"Untuk itu salah satu program yang menjadi perhatian khusus bagi AASI ke depannya dengan memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat luas mengenai manfaat dari asuransi syariah," kata dia.

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia Memperkuat Litrerasi dan Edukasi Asuransi Syariah kepada Masyarakat

Republika.co.id – Jakarta – AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia) akan memperkuat literasi dan edukasi asuransi syariah kepada masyarakat.

Wakil Ketua Umum Bidang Humas dan Literasi AASI, Bunbun Machbub, menjelaskan, salah satu program yang menjadi perhatian khusus bagi AASI ke depannya dengan memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat luas mengenai manfaat dari asuransi syariah.

"Fungsi edukasi dan literasi akan dioptimalkan oleh AASI dalam rangka membangun awareness masyarakat mengenai keberadaan asuransi syariah sebagai alternative business model yang lebih adil bagi para stakeholdernya, namun juga memberikan pemahaman utuh kepada masyarakat umum mengenai asuransi syariah," ujar Bunbun di Jakarta.

Menurut Bunbun, AASI juga akan berkontribusi dalam melakukan sosialisasi terkait Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No. 106/DSN-MUI/X/2016 mengenai wakaf manfaat asuransi dan manfaat investasi pada asuransi jiwa syariah, terutama dalam aplikasinya di asuransi jiwa syariah.

Sosialisasi dan literasi terkait wakaf manfaat asuransi diharapkan semakin memperkuat posisi lembaga asuransi syariah sebagai pendukung gerakan penguatan ekonomi syariah di tanah air, dimana potensi wakaf di Indonesia sampai saat ini dirasa belum optimal.

"Hal ini sebagai upaya untuk mendukung wakaf sebagai salah satu kekuatan pengembangan ekonomi Islam," kata Bunbun.

Selain itu, program kerja unggulan AASI lainnya yakni mengupayakan pemenuhan data statistik industri asuransi syariah secara lebih akurat dan terinci untuk masing-masing jenis perusahaan baik asuransi jiwa, asuransi umum maupun reasuransi.

Data ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur industri asuransi Syariah dibandingkan dengan konvensional. "Hal ini tentunya diharapkan agar industri memahami posisi industri untuk dapat melaksanakan peningkatan pangsa pasar secara organik," katanya.

Asuransi Syariah Dinilai Menjadi Pilihan Tepat

Republika.co.id – Yogyakarta – Di era yang penuh resiko saat ini, masyarakat dituntut untuk cerdas memikirkan penjaminan/perlindungan dari semua resiko. Keikutsertaan dalam berasuransi hendaknya menjadi pertimbangan utama agar keberlangsungan hidup kita terproteksi. Dan pilihan yang tepat adalah asuransi syariah. Kenapa syariah, karena asuransi syariah memiliki prinsip tolong menolong dan semua pihak memperoleh menfaat.

Produk-produk pengembangan asuransi syariah juga lebih luwes. Karena masyarakat bisa memilih asuransi yang pas sesuai kebutuhan tertanggung dan keluarganya. Perencanaannya juga bisa didialogkan secara matang dengan pihak asuransi, sehingga masyarakat tidak akan dirugikan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Asuransi Syariah Panin Daichi Life, Muhammad Iqbal dalam Roadshow Seminar bertempat di Convention Hall (Gedung RHA. Soenardjo, SH), kampus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.

Seminar bertema “Sejahtera bersama Asuransi Syariah” ini menghadirkan empat narasumber, yakni Muhammad Iqbal dan Simon Imanto dari Panin DaichiLife, Fenita Handani dari Direktorat Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah OJK dan Muhammad Syakir Sula dari Pengurus Pusat PP Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Lebih lanjut Muhammad Iqbal menyampaikan, asuransi syariah mempunyai kekhasan toyib dan unggul dibanding produk-produk asuransi konvensional. Sementara itu hal-hal yang bisa diproteksi melalui asuransi syariah antara lain asuransi jiwa.

"Asuransi jiwa menjamin resiko kecelakanan yang berakibat cacat atau meninggal dunia. Bila tertanggung cacat atau meninggal dunia, asuransi jiwa menjamin keberlangsungan hidup keluarga tertanggung," ujarnya.

Sedangkan asuransi kesehatan, menjamin biaya kesehatan tertanggung bukan hanya untuk rawat inap atau pengobatan sesaat, tetapi juga menjamin resiko bila tertanggung harus melalui pengobatan dalam jangka lama. Asuransi kesehatan syariah tidak hanya menangung beaya pengobatan melalui medis, tetapi pengobatan alternatif juga bisa ditanggung.

Asuransi ganti rugi usaha dan harta benda akibat kelalaian, kerugian atau bencana yang tidak terduga. Asuransi ini menjamin tergantikannya kerugian harta benda maupun modal usaha. Asuransi hari tua; menjamin kesejahteraan finansial di hari tua saat kita tidak produktif lagi. Manfaat asuransi hari tua lebih dari sekedar tabungan hari tua, karena tabungan hari tua tidak memperhitungkan adanya nilai uang akibat inflasi dari waktuke waktu.

Menurut Muhammad Iqbal prinsip asuransi syariah, bukan sekedar menaggung resiko kerugian dari tertanggung, tetapi menjamin/ mengurangi beban hidup keluarga tertanggung disaat terjadi hal-hal yang tidak terduga. Kelebihan lain yang dimiliki asuransi syariah adalah dana berasal dari masyarakat, dikelola dengan prinsip tabarru.

Artinya dana masyarakat dikembangakan lembaga, selalu dilaporkan secara terbuka, setiap tahun dihitung hasil pengembangannya, 60% dikembalikan ke masyarakat, 25% dikembangkan lagi, 3% menjadi dana resiko, dan hanya 12% sebagai keuantungan lembaga.

Wakil Presiden Direktur Panin Daichi Life, Simon Imanto menambahkan, lima tahun terakhir ini masih diwarnai krisis ekonomi global akibat credit crunch, perbankan dan asuransi konvesional tidak bisa mengatasi sendirian, disinilah industri keuangan syariah justru tumbuh pesat, konsisten dan mengglobal baik di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim maupun di negara-negara yang penduduk mayoritasnya non-Muslim.

Data menunjukkan aset keuangan syariah Indonesia yang dihimpun dari masyarakat (tumbuh di atas 25% – 29% dari aset ekonomi nasional) atau mampu melampau pertumbuhan industri syariah global yang hanya 15% – 20% dari aset ekonomi global. Pertumbuhan nasional ini disumbang dari perbankan syariah dan Institusi Keuangan Non Bank (IKNB) termasuk asuransi syariah.

"Namun pertumbuhan permodalan syariah dari masyarakat ini belum didukung pemanfaatan industri syariah oleh masyarakat, terutama masyarakat Muslim," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, aktifitas edukasi, literasi dan aktivasi keuangan syariah yang terukur dan terarah kepada masyarakat luas harus terus dilakukan dengan kerjasama yang saling mendukung antara OJK, MES, lembaga-lembaga keuangan syariah dan perguruan tinggi terkait, dan stakeholder yang lain, sehingga kehadiran keuangan syariah bisa dijadikan pilihan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Kami percaya konsep rahmat bagi alam semesta yang dimiliki keuangan syariah dapat menjadi solusi bagi perekonomian bangsa Indonesia di bawah naungan NKRI ini," kata Simon Imanto.

1 2 3 4 5 20