2018 Diprediksi Zakat dan Wakaf akan Terus Tumbuh

Republika.co.id – Jakarta –  Pelaku keuangan syariah di seluruh dunia harus memanfaatkan peluang baru yang diciptakan oleh Sustainable Development Goals dan berinovasi dengan produk seperti wakaf dan zakat karena dipredisksi prospek yang rendah terjadi pada 2018.

"Dengan industri yang sekarang berada di persimpangan jalan, para pemain bisa memilih cara tersulit yaitu dengan menciptakan peluang pertumbuhan baru sekaligus memperkuat fondasi melalui standardisasi," ujar Kepala Keuangan Syariah lembaga pemeringkat Standard and Poor (S&P) Dr Mohammed Damak.

Peluang pertumbuhan baru tersebut yaitu dengan berinovasi melalui produk wakaf dan zakat. Sedangkan cara termudah, kata Mohamed, dengan menerima pertumbuhan lima persen seperti yang diperkirakan di 2018 dan membiarkan industri terus berkembang seperti sekarang.

Menurut Mohamed, pertumbuhan keuangan syariah diperkirakan akan sekitar lima persen disebabkan oleh kurang mendukungnya kondisi ekonomi. Pada tahun 2018, kata dia, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) akan memberikan hampir sepertiga dari pertumbuhan mereka di tahun 2012.
"Malaysia jauh lebih baik, berkat diversifikasi ekonomi dan respon yang kuat selama penurunan harga minyak," katanya.

GCC, Iran, dan Malaysia menyumbang 90 persen aset perbankan di industri ini. Pertumbuhan moderat di Iran karena sanksi dan kelangkaan opsi pembiayaan yang tersisa.

Mohamed juga mencatat bahwa depresiasi/devaluasi yang tajam di beberapa negara inti menjelaskan mengapa industri ini hampir mencapai angka dua triliun dolar AS pada tahun 2016. Prinsip keuangan syariah, yang tidak memiliki riba, spekulasi, sektor gelap dan mempromosikan pembagian keuntungan dan kerugian dan dukungan aset, membuat keuangan syariah menjadi mitra alami.

Pasar sukuk tumbuh sangat kuat pada semester I 2017, yang didukung oleh penerbitan jumbo di GCC dan likuiditas yang baik di GCC dan global. Setelah sukuk senilai 9 miliar dolar AS selama periode tersebut, Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka akan memanfaatkan pasar sukuk lokal. "Selama semester pertama, bank syariah melakukan lebih baik daripada rekan-rekan konvensional mereka," kata Mohamed.

Sementara itu ekonom syariah Adiwarman Karim menilai, perkembangan ekonomi syariah tentu sangat tergantung kepada ekonomi global. Hal ini juga akan mempengaruhi ekonomi syariah dalam negeri. "Tahun depan ekonomi syariah bisa membaik signifikan. Namun ada faktor lain yaitu faktor keadaan perekonomian Indonesia sendiri yang harus menunggu normal atau stabilisasi perekonomian dunia," kata dia.

Menurut Adiwarman, ekonomi syariah di Indonesia semestinya tumbuh lebih baik setelah di bentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Dengan KNKS, pemerintah, lembaga keuangan serta lembaga filantropi seperti Baznas dan BWI yang berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah akan dapat bersinergi lebih baik.

Apalagi, lanjut Adiwarman, selama ini kekuatan ekonomi syariah berasal dari inisiatif masyarakat (bottom up). "Dengan adanya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), kita harapkan menjadi lengkap, ada pendekatan top down, sehingga harmonisasi dan koordinasi yang selama ini menjadi persoalan di pengembangan keuangan syariah bisa diatasi," katanya.

Leave a Reply